ANAK DENGAN GANGGUAN ADD - ADHD
A.
PENGERTIAN
ADD – ADHD
ADD merupakan kependekan dari Attention Deficit Disorder yang berarti
gangguan pemusatan perhatian. Pada saat ditambahkan Hiper-actifity atau
Hiper-Aktif penulisannya menjadi beragam. Ada yang ditulis ADHD, AD-HD, adapula
yang menulis ADD/H. tetapi sebenarnya ketiga jenis penulisan itu maksudnya
sama.
Istilah ini merupakan istilah yang sering muncul di dunia medis, dunia
pendidikan dan pisikologi. Istilah ini memberikan gambaran tentang suatu
kondisi medis yang mencangkup disfungsi otak, dimana individu mengalami
kesulitan dalam mengendalikan impuls, menghambat perilaku dan tidak mendukung
rentang perhatian mereka. Jika hal ini terjadi pada seorang anak dapat
menyebabkan berbagai kesulitan belajar, kesulitan perilaku, kesulitan sosial,
dan kesulitan-
kesulitan lain yang kait mengait. Jika di definisikan secara umum ADHD menjelaskan kondisi anak yang memperlihatkan ciri-ciri kurang konsentrasi, hiperaktif dan impulsive yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan sebagian besar aktifitas hidup mereka.
kesulitan lain yang kait mengait. Jika di definisikan secara umum ADHD menjelaskan kondisi anak yang memperlihatkan ciri-ciri kurang konsentrasi, hiperaktif dan impulsive yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan sebagian besar aktifitas hidup mereka.
Kenyataannya ADHD tidak selalu disertai dengan gangguan hiperaktif, oleh
karena itu istilah ADHD di Indonesia
diterjemahkan menjadi Gangguan Pemusatan Perhatian dengan / tanpa Hiperaktif
(GPP/H). Anak yang mengalami ADHD atau GPP/H kerapkali tumpang tindih dengan
kondisi lainnya seperti disleksia, dispraksia, gangguan menentang dan melawan.
B.
SEJARAH
GANGGUAN ADD – ADHD
Pada tahun 1845, Heinrich Hoffman, seorang neurolog, untuk pertama
kalinya menulis mengenai perilaku yang kemudian di kenal dengan hiperaktif
dalam buku cerita anak karangannya. Dalam puisi humornya dia menggambarkan
seorang anak yang memiliki perilaku aneh pada saat makan. Anak itu diberi nama
Si Resah Phil yang belum pernah mau duduk.
150 tahun berikutnya kejadian serupa diperlihatkan oleh seorang anak di
Chicago, namanya Dusty. Cirri yang mereka perlihatkan adalah serupa yaitu cirri
primer ADHD. Ada tiga jenis cirri yaitu anak tidak konsentrasi terhadap ajakan,
tidak pernah mau diam dan bertindak tanpa berpikir.
Dalam literatur lain ADHD pertama kali ditemukan pada 1902 oleh seorang
dokter Inggris bernama Prof. George F. Still. Dalam penelitiannya terhadap
sekelompok anak yang menunjukkan suatu ketidak mampuan abnormal untuk
memusatkan perhatian, gelisah dan resah. Ia menemukan bahwa anak-anak tersebut
memiliki kekurangan yang serius dalam hal kemauan yang berasal dari bawaan
biologis. Anggapannya, hal itu disebabkan oleh sesuatu di dalam diri anak dan
bukan karena faktor lingkungan.
Pendapat lain menyatakan bahwa ADHD disebabkan oleh epidemic encephalitis
(peradangan otak) yang menyebar keseluruh dunia yang terjadi sejak tahun
1917-1926. Bagi banyak anak yang bertahan hidup, hal ini dapat menimbulkan
berbagai masalah perilaku, yaitu mudah marah, perhatian yang lemah dan
hiperaktif.
Tahun 40 dan 50- an, perilaku ini terjadi serupa tetapi pada diri anak
tidak ditemukan kerusakan otak dan muncullah istilah minimal brain damage
(MBD). Istilah ini membuka jalan bagi orang yang berpendapat bahwa problem ini
disebabkan kerusakan fisik.
Tahun 1937 Bradley mengatakan bahwa psycho stimulan amphetamine dapat
mengurangi tingkat hiperaktifitas dan masalah prilaku. Dalam hal ini tekanan
bergeser dari etiologi menuju ungkapan perilaku dan hiperaktifitas menjadi
cirri yang menentukan. Kemudian mereka menganggap bahwa perhatian menjadi kunci
ADHD.
C.
CIRI-CIRI
GANGGUAN ADD – ADHD
Ciri utama ADHD antara lain :
·
Rentang perhatian yang kurang
·
Impulsivitas yang berlebihan
·
Hiperaktifitas
Adapun gejala rentang perhatian yang kurang meliputi :
·
Gerakan yang kacau
·
Cepat lupa
·
Mudah bingung
·
Kesulitan dalam mencurahkan perhatian
Sedangkan gejala impulsivitas dan hiperaktif meliputi :
·
Emosi gelisah
·
kesulitan bermain dengan tenang
·
mengganggu anak lain
·
selalu bergerak
D.
JENIS-JENIS
GANGGUAN ADD- ADHD
ADHD dibedakan ke dalam 3 jenis:
1.
Tipe ADHD gabungan
Dapat
dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 dari 9 kriteria untuk perhatian, di
tambah paling sedikit 6 dari 9 kriteria untuk hiperaktiktivitas impulsivitas.
Munculnya 6 gejala tersebut berkali-kali sampai dengan tingkat yang signifikan
disertai adanya beberapa bukti sebagai berikut:
a.
Tampak sebelum anak mencapai 7 tahun.
b.
Diwujudkan paling sedikit 2 seting yang berbeda.
c.
Menyebabkan hambatan yang signifikan dalam akademik.
d.
Dapat dijelaskan dengan lebih baik oleh kondisi
pisikologi.
2.
Tipe ADHD kurang memperhatikan dan Hiperaktif Impulsif
Dapat
dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 dari 9 kriteria untuk perhatian tanpa
hiperaktifitas/impulsivitas. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa dalam
beberapa buku teks, kita menemukan ADHD ditulis dengan garis –AD/HD. Hal ini
membedakan, bahwa ADHD kurang memperhatikan.
3.
Tipe ADHD Hiperaktif Impulsif
Tipe
ketiga ini menuntut paling sedikit 6 dari 9 kriteria hiperaktif impulsivitas. Tipe
ADHD kurang memerhatikan ini mengacu pada anak yang mengalami kesulitan besar
dengan memori (ingatan) dan kecepatan motor perceptual (persepsi gerak),
cenderung untuk melamun dan kerapkali menyendiri secara sosial.
Kriteria ADHD dari Diagnositic
Statistical Manual IV (1994)
1.
a) Kurang perhatian
·
seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap
sesuatu yang detail atau membuat kesalahan yang semberono.
·
Sering mengalami kesulitan dalam memusatkan
perhatian terhadap tugas.
·
Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara
secara langsung.
·
Seringkali tidak mengikuti baik-baik untruksi
dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan ( bukan disebabkan karena perilaku
melawan atau kegagalan untuk mengerti instruksi).
·
Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan
tugas.
·
Seringkali kehilangan barang penting untuk tugas
dan kegiatan.
·
Seringkali menghindari, tidak menyukai atau
enggan untuk melaksanakan tugas yang membutuhkan usaha mental.
·
Seringkali bingung / terganggu oleh rangsangan
dari luar
·
Seringkali lekas lupa dalam menyelesaikan
kegiatan sehari-hari.
b)
Hiperaktifitas Impulsivitas
Hiperaktifitas
·
Seringkali gelisah dengan tangan kaki mereka,
dan sering menggeliat di kursi.
·
Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas
atau situasi lainnya.
·
Sering berlarian atau naik-naik secara
berlebihan dimana hal ini tidak tepat.
·
Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau
terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang.
·
Sering bergerak atau bertindak seolah-olah
dikendalikan oleh motor.
·
Sering berbicara berlebihan
Impulsivitas
·
Sering member jawaban sebelum pertanyaan
selesai.
·
Sering mengalami kesulitan dalam mengantri
giliran.
·
Sering menginteruksi atau mengganggu orang lain,
misalnya memotong pembicaraan atau permainan.
2.
Beberapa gejala hiperaktifitas impulsivitas atau kurang
perhatian yang menyebabkan gangguan muncul sebelum anak berusia 7 tahun.
3.
Ada suatu gangguan di 2 atau lebih situasi.
4.
Harus ada gangguan yang secara klinis, signifikan di
dalam fungsi sosial, akademik atau pekerjaan.
5.
Gejala tidak terjadi selama berlakunya PDD,
skizofrenia, atau gangguan fisikotok lainnya dan tidak dijelaskan dengan lebih
baik oleh gangguan mental lainnya.
E.
FAKTOR
PENYEBAB ADD – ADHD
Beberapa penelitian belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari ADHD.
Seperti halnya dengan gangguan perkembangan lainnya.
1. Faktor
lingkungan/psikososial
Faktor-faktor lingkungan terlibat termasuk dalam paparan rahim untuk
alkohol, merokok ibu dan paparan lingkungan untuk memimpin pada awal hidup yang
sangat. Hubungan merokok ibu untuk ADHD bisa disebabkan oleh nikotin
menyebabkan hipoksia intrauterin . Bisa juga bahwa perempuan dengan ADHD lebih
mungkin untuk merokok dan oleh karena itu, karena komponen genetik yang kuat
ADHD, lebih cenderung memiliki anak-anak dengan ADHD. Komplikasi selama kehamilan
dan kelahiran-termasuk prematur lahir -mungkin juga berperan. ADHD pasien telah
diamati untuk memiliki yang lebih tinggi daripada tingkat rata-rata cedera
kepala; Namun, bukti saat ini tidak menunjukkan bahwa cedera kepala adalah
penyebab ADHD pada pasien diamati. Infeksi selama kehamilan, saat lahir , dan
pada anak usia dini terkait dengan peningkatan risiko mengembangkan ADHD. Ini
termasuk berbagai virus (campak, varicella, rubella, enterovirus 71) dan
infeksi bakteri streptokokus.
a. Konflik keluarga.
b. Sosial ekonomi keluarga yang tidak
memadai.
c. Jumlah keluarga yang terlalu
besar.
d. Orang tua terkena kasus kriminal.
e. Orang tua dengan gangguan jiwa (psikopat).
f. Anak yang diasuh di penitipan
anak.
g. Riwayat kehamilan dengan eklampsia, perdarahan antepartum, fetal distress, bayi lahir
dengan berat badan lahir rendah, ibu merokok saat hamil, dan alkohol.
2. Faktor
genetic
Berbagai
penelitian telah menunjukkan bahwa dalam banyak kasus ADHD dan hiperaktif yang
terkait dapat diwariskan meskipun penyebab lain berpengaruh. Para peneliti
percaya bahwa sebagian besar kasus ADHD muncul dari kombinasi berbagai gen,
banyak dari yang mempengaruhi dopamin transporter. Candidate genes include:
Kandidat gen meliputi:
ADHD tidak mengikuti model tradisional "penyakit
genetik" dan dipandang sebagai suatu interaksi yang rumit antara faktor
genetik dan lingkungan. Sampai saat ini tidak ada gen tunggal telah terbukti
memberikan kontribusi besar untuk ADHD.
3. Gangguan
otak dan metabolism
c. Gangguan
fungsi astrosit
dalam pembentukan dan penyediaan laktat serta gangguan
fungsi oligodendrosit.
Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmiter
dopamin
dan epinefrina.
Teori faktor genetik, beberapa penelitian
dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang
sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan saudara
penderita ADHD memiliki risiko hingga 2- 8 x terdapat gangguan ADHD. Teori lain
menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh
berbagai gangguan neurotransmiter sebagai pengatur gerakan dan control aktifitas
diri.
F.
PENGOBATAN
Bila orangtua sudah menemukan salah satu atau beberapa ciri-ciri anak
dengan gangguan ADHD, sebaiknya segera bawa anak ke ahli dalam hal ini
psikolog / psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Prinsipnya, lebih
baik orang tua "curiga" dahulu meski kemudian tak terbukti, dari pada
menunda kecurigaan dengan risiko penanganannya terlambat. Oleh psikolog / psikiater,
anak dan orangtua akan diobservasi lebih lanjut dengan beberapa tes / pertanyaan.
Bila memang terbukti anak mengalami kesulitan belajar karena ADHD, maka
penanganan yang akan dilakukan adalah:
* Pemberian obat.
Bertujuan mengurangi sensitivitas transporter dopamin sehingga dopamin
yang bisa diserap oleh reseptor lebih banyak. Dengan demikian diharapkan anak
lebih bisa konsentrasi dan mempunyai kontrol diri. Jenis obat-obatan yang
diberikan antara lain golongan amfetamin, aferadin, dexmethylphenidate, dan
sebagainya. Pemberian obat ini harus dengan pengawasan dokter dan akan
dihentikan bila dirasa cukup, jadi tak dikonsumsi anak selamanya.
* Terapi perilaku.
Seiring dengan pemberian obat, anak diminta menjalani terapi perilaku.
Tujuannya, mengajari anak melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Seperti
diketahui, anak-anak ini umumnya tak bisa duduk diam, memusatkan perhatian,
mendengarkan orangtua/guru yang sedang berbicara, menggunakan alat tulis dengan
benar, dan sebagainya.
* Remedial teaching programme.
Setelah anak lebih bisa memusatkan perhatian, maka diharapkan adanya
remedial teaching programme. Program ini melibatkan pihak sekolah untuk
mengejar ketertinggalan anak pada pelajaran yang diberikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar