Rabu, 04 April 2012

Anak Berkebutuhan Khusus Part 4


ANAK DENGAN GANGGUAN ADD - ADHD

A.    PENGERTIAN ADD – ADHD
ADD merupakan kependekan dari Attention Deficit Disorder yang berarti gangguan pemusatan perhatian. Pada saat ditambahkan Hiper-actifity atau Hiper-Aktif penulisannya menjadi beragam. Ada yang ditulis ADHD, AD-HD, adapula yang menulis ADD/H. tetapi sebenarnya ketiga jenis penulisan itu maksudnya sama.
Istilah ini merupakan istilah yang sering muncul di dunia medis, dunia pendidikan dan pisikologi. Istilah ini memberikan gambaran tentang suatu kondisi medis yang mencangkup disfungsi otak, dimana individu mengalami kesulitan dalam mengendalikan impuls, menghambat perilaku dan tidak mendukung rentang perhatian mereka. Jika hal ini terjadi pada seorang anak dapat menyebabkan berbagai kesulitan belajar, kesulitan perilaku, kesulitan sosial, dan kesulitan-
kesulitan lain yang kait mengait. Jika di definisikan secara umum ADHD menjelaskan kondisi anak yang memperlihatkan ciri-ciri kurang konsentrasi, hiperaktif dan impulsive yang dapat menyebabkan ketidak seimbangan sebagian besar aktifitas hidup mereka.
Kenyataannya ADHD tidak selalu disertai dengan gangguan hiperaktif, oleh karena itu istilah ADHD di  Indonesia diterjemahkan menjadi Gangguan Pemusatan Perhatian dengan / tanpa Hiperaktif (GPP/H). Anak yang mengalami ADHD atau GPP/H kerapkali tumpang tindih dengan kondisi lainnya seperti disleksia, dispraksia, gangguan menentang dan melawan.

B.     SEJARAH GANGGUAN ADD – ADHD
Pada tahun 1845, Heinrich Hoffman, seorang neurolog, untuk pertama kalinya menulis mengenai perilaku yang kemudian di kenal dengan hiperaktif dalam buku cerita anak karangannya. Dalam puisi humornya dia menggambarkan seorang anak yang memiliki perilaku aneh pada saat makan. Anak itu diberi nama Si Resah Phil yang belum pernah mau duduk.
150 tahun berikutnya kejadian serupa diperlihatkan oleh seorang anak di Chicago, namanya Dusty. Cirri yang mereka perlihatkan adalah serupa yaitu cirri primer ADHD. Ada tiga jenis cirri yaitu anak tidak konsentrasi terhadap ajakan, tidak pernah mau diam dan bertindak tanpa berpikir.
Dalam literatur lain ADHD pertama kali ditemukan pada 1902 oleh seorang dokter Inggris bernama Prof. George F. Still. Dalam penelitiannya terhadap sekelompok anak yang menunjukkan suatu ketidak mampuan abnormal untuk memusatkan perhatian, gelisah dan resah. Ia menemukan bahwa anak-anak tersebut memiliki kekurangan yang serius dalam hal kemauan yang berasal dari bawaan biologis. Anggapannya, hal itu disebabkan oleh sesuatu di dalam diri anak dan bukan karena faktor lingkungan.
Pendapat lain menyatakan bahwa ADHD disebabkan oleh epidemic encephalitis (peradangan otak) yang menyebar keseluruh dunia yang terjadi sejak tahun 1917-1926. Bagi banyak anak yang bertahan hidup, hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah perilaku, yaitu mudah marah, perhatian yang lemah dan hiperaktif.
Tahun 40 dan 50- an, perilaku ini terjadi serupa tetapi pada diri anak tidak ditemukan kerusakan otak dan muncullah istilah minimal brain damage (MBD). Istilah ini membuka jalan bagi orang yang berpendapat bahwa problem ini disebabkan kerusakan fisik.
Tahun 1937 Bradley mengatakan bahwa psycho stimulan amphetamine dapat mengurangi tingkat hiperaktifitas dan masalah prilaku. Dalam hal ini tekanan bergeser dari etiologi menuju ungkapan perilaku dan hiperaktifitas menjadi cirri yang menentukan. Kemudian mereka menganggap bahwa perhatian menjadi kunci ADHD.

C.    CIRI-CIRI GANGGUAN ADD – ADHD
Ciri utama ADHD antara lain :
·         Rentang perhatian yang kurang
·         Impulsivitas yang berlebihan
·         Hiperaktifitas
Adapun gejala rentang perhatian yang kurang meliputi :
·         Gerakan yang kacau
·         Cepat lupa
·         Mudah bingung
·         Kesulitan dalam mencurahkan perhatian
Sedangkan gejala impulsivitas dan hiperaktif meliputi :
·         Emosi gelisah
·         kesulitan bermain dengan tenang
·         mengganggu anak lain
·         selalu bergerak

D.    JENIS-JENIS GANGGUAN ADD- ADHD
ADHD dibedakan ke dalam 3 jenis:
1.      Tipe ADHD gabungan
Dapat dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 dari 9 kriteria untuk perhatian, di tambah paling sedikit 6 dari 9 kriteria untuk hiperaktiktivitas impulsivitas. Munculnya 6 gejala tersebut berkali-kali sampai dengan tingkat yang signifikan disertai adanya beberapa bukti sebagai berikut:
a.       Tampak sebelum anak mencapai 7 tahun.
b.      Diwujudkan paling sedikit 2 seting yang berbeda.
c.       Menyebabkan hambatan yang signifikan dalam akademik.
d.      Dapat dijelaskan dengan lebih baik oleh kondisi pisikologi.
2.      Tipe ADHD kurang memperhatikan dan Hiperaktif Impulsif
Dapat dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 dari 9 kriteria untuk perhatian tanpa hiperaktifitas/impulsivitas. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa dalam beberapa buku teks, kita menemukan ADHD ditulis dengan garis –AD/HD. Hal ini membedakan, bahwa ADHD kurang memperhatikan.
3.      Tipe ADHD Hiperaktif Impulsif
Tipe ketiga ini menuntut paling sedikit 6 dari 9 kriteria hiperaktif impulsivitas. Tipe ADHD kurang memerhatikan ini mengacu pada anak yang mengalami kesulitan besar dengan memori (ingatan) dan kecepatan motor perceptual (persepsi gerak), cenderung untuk melamun dan kerapkali menyendiri secara sosial.
Kriteria ADHD dari Diagnositic Statistical Manual IV (1994)
1.      a) Kurang perhatian
·         seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau membuat kesalahan yang semberono.
·         Sering mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugas.
·         Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara secara langsung.
·         Seringkali tidak mengikuti baik-baik untruksi dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan ( bukan disebabkan karena perilaku melawan atau kegagalan untuk mengerti instruksi).
·         Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas.
·         Seringkali kehilangan barang penting untuk tugas dan kegiatan.
·         Seringkali menghindari, tidak menyukai atau enggan untuk melaksanakan tugas yang membutuhkan usaha mental.
·         Seringkali bingung / terganggu oleh rangsangan dari luar
·         Seringkali lekas lupa dalam menyelesaikan kegiatan sehari-hari.
b) Hiperaktifitas Impulsivitas
Hiperaktifitas
·         Seringkali gelisah dengan tangan kaki mereka, dan sering menggeliat di kursi.
·         Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau situasi lainnya.
·         Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dimana hal ini tidak tepat.
·         Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang.
·         Sering bergerak atau bertindak seolah-olah dikendalikan oleh motor.
·         Sering berbicara berlebihan
Impulsivitas
·         Sering member jawaban sebelum pertanyaan selesai.
·         Sering mengalami kesulitan dalam mengantri giliran.
·         Sering menginteruksi atau mengganggu orang lain, misalnya memotong pembicaraan atau permainan.
2.      Beberapa gejala hiperaktifitas impulsivitas atau kurang perhatian yang menyebabkan gangguan muncul sebelum anak berusia 7 tahun.
3.      Ada suatu gangguan di 2 atau lebih situasi.
4.      Harus ada gangguan yang secara klinis, signifikan di dalam fungsi sosial, akademik atau pekerjaan.
5.      Gejala tidak terjadi selama berlakunya PDD, skizofrenia, atau gangguan fisikotok lainnya dan tidak dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan mental lainnya.






E.     FAKTOR PENYEBAB  ADD – ADHD
Beberapa penelitian belum dapat menyimpulkan penyebab pasti dari ADHD. Seperti halnya dengan gangguan perkembangan lainnya.

1.      Faktor lingkungan/psikososial
Faktor-faktor lingkungan terlibat termasuk dalam paparan rahim untuk alkohol, merokok ibu dan paparan lingkungan untuk memimpin pada awal hidup yang sangat. Hubungan merokok ibu untuk ADHD bisa disebabkan oleh nikotin menyebabkan hipoksia intrauterin . Bisa juga bahwa perempuan dengan ADHD lebih mungkin untuk merokok dan oleh karena itu, karena komponen genetik yang kuat ADHD, lebih cenderung memiliki anak-anak dengan ADHD. Komplikasi selama kehamilan dan kelahiran-termasuk prematur lahir -mungkin juga berperan. ADHD pasien telah diamati untuk memiliki yang lebih tinggi daripada tingkat rata-rata cedera kepala; Namun, bukti saat ini tidak menunjukkan bahwa cedera kepala adalah penyebab ADHD pada pasien diamati. Infeksi selama kehamilan, saat lahir , dan pada anak usia dini terkait dengan peningkatan risiko mengembangkan ADHD. Ini termasuk berbagai virus (campak, varicella, rubella, enterovirus 71) dan infeksi bakteri streptokokus.

a. Konflik keluarga.
b. Sosial ekonomi keluarga yang tidak memadai.
c. Jumlah keluarga yang terlalu besar.
d. Orang tua terkena kasus kriminal.
e. Orang tua dengan gangguan jiwa (psikopat).
f. Anak yang diasuh di penitipan anak.
g. Riwayat kehamilan dengan eklampsia, perdarahan antepartum, fetal distress, bayi lahir dengan berat badan lahir rendah, ibu merokok saat hamil, dan alkohol.
2.      Faktor genetic
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa dalam banyak kasus ADHD dan hiperaktif yang terkait dapat diwariskan meskipun penyebab lain berpengaruh. Para peneliti percaya bahwa sebagian besar kasus ADHD muncul dari kombinasi berbagai gen, banyak dari yang mempengaruhi dopamin transporter. Candidate genes include: Kandidat gen meliputi:
ADHD tidak mengikuti model tradisional "penyakit genetik" dan dipandang sebagai suatu interaksi yang rumit antara faktor genetik dan lingkungan. Sampai saat ini tidak ada gen tunggal telah terbukti memberikan kontribusi besar untuk ADHD.
Terdapat mutasi gen pengkode neurotransmiter dan reseptor dopamin(D2 dan D4) pada kromosom 11p.

3.      Gangguan otak dan metabolism
a.      Trauma lahir atau hipoksia yang berdampak injury pada lobus frontalis di otak.
b.      Pengurangan volume serebrum.
c.      Gangguan fungsi astrosit dalam pembentukan dan penyediaan laktat serta gangguan fungsi oligodendrosit.
Beberapa teori yang sering dikemukakan adalah hubungan antara neurotransmiter dopamin dan epinefrina. Teori faktor genetik, beberapa penelitian dilakukan bahwa pada keluarga penderita, selalu disertai dengan penyakit yang sama setidaknya satu orang dalam keluarga dekat. Orang tua dan saudara penderita ADHD memiliki risiko hingga 2- 8 x terdapat gangguan ADHD. Teori lain menyebutkan adanya gangguan disfungsi sirkuit neuron di otak yang dipengaruhi oleh berbagai gangguan neurotransmiter sebagai pengatur gerakan dan control aktifitas diri.

F.     PENGOBATAN
Bila orangtua sudah menemukan salah satu atau beberapa ciri-ciri anak dengan gangguan ADHD, sebaiknya segera bawa anak ke ahli dalam hal ini psikolog / psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Prinsipnya, lebih baik orang tua "curiga" dahulu meski kemudian tak terbukti, dari pada menunda kecurigaan dengan risiko penanganannya terlambat. Oleh psikolog / psikiater, anak dan orangtua akan diobservasi lebih lanjut dengan beberapa tes / pertanyaan. Bila memang terbukti anak mengalami kesulitan belajar karena ADHD, maka penanganan yang akan dilakukan adalah:
* Pemberian obat.
Bertujuan mengurangi sensitivitas transporter dopamin sehingga dopamin yang bisa diserap oleh reseptor lebih banyak. Dengan demikian diharapkan anak lebih bisa konsentrasi dan mempunyai kontrol diri. Jenis obat-obatan yang diberikan antara lain golongan amfetamin, aferadin, dexmethylphenidate, dan sebagainya. Pemberian obat ini harus dengan pengawasan dokter dan akan dihentikan bila dirasa cukup, jadi tak dikonsumsi anak selamanya.
* Terapi perilaku.
Seiring dengan pemberian obat, anak diminta menjalani terapi perilaku. Tujuannya, mengajari anak melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Seperti diketahui, anak-anak ini umumnya tak bisa duduk diam, memusatkan perhatian, mendengarkan orangtua/guru yang sedang berbicara, menggunakan alat tulis dengan benar, dan sebagainya.
* Remedial teaching programme.
Setelah anak lebih bisa memusatkan perhatian, maka diharapkan adanya remedial teaching programme. Program ini melibatkan pihak sekolah untuk mengejar ketertinggalan anak pada pelajaran yang diberikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar