Rabu, 29 Februari 2012

Kilometer Tempuh

Diseribu jalan itu
Kilometer demi kilometer
Derau - derau sepatu usang
Menjelma dalam bias debu

Aku terkapar
Hidup dalam ketakutan
Disudutkan oleh perjuangan
Dikucilkan oleh jaman

Aku mawar jadi berduri
Kumbang mati pada wangi
Tumbuh aku
Mekar, mekarkan lah aku

Sampai masa tiba,
Aku jadi bertanya,
Mengapa mesti mawar jika aku srigala
Yeah, aku melolong

Teriakkan batu kecil
Jangan sandung aku


Aku berontak,
Untuk terus hidup
Pada kilometer tempuh
Yang akan habis
Entah esok, entah lusa...

Senin, 13 Februari 2012

Air Darah dan Mata Api

Hari malam
Terang bintang
Gadis remaja mulai telanjang
Dengan wangi neraka

Sedikit bimbang ia melangkah,
Tapi nasib mengutukinya habis-habisan
Tak sempat bersenda gurau,
Laju jalan bersandar malam

Ia coba taubat
Kembali ke pangkuan ibu
Tapi ibunya malu
Coba ke meja kerja ayah
Tapi ayah murka

Air matanya menyambar
Meleleh bagai lava
Pijar kebanggaan
Darah kesucian

Ia telah jual itu semua
Demi jaman
yang ternyata juga tak berpihak padanya

Habis sudah
Kecewa dan luka yang ia coba bawa lari
Demi nama baik
Demi tak disebut pelacur..










Jumat, 10 Februari 2012

Hentikan memiskinkan kami

Orang yang teriak
Yang menjerit kesetanan
Yang telanjang dan nista
Yang mengamuk di pinggir jalan

Jangan kau abai dalam diam
Merendah dan meriuh seperti wanita penggosip
Yang habiskan waktu demi berita palsu

Engkau tak tahu
Gigi mereka yang hampir ompong
Yang menyebar bau

Kau akan menjadi jijik
Tertuju dijantungmu
Orang-orang itu
Kau tak pernah tahu

Sampai tetangga mu menghidangkan sup anjing dimeja makan
Meminum limbah yang dibuang di comberan
Jangan kau abai dalam diam

Sampai nanti aku pun meluap,
Jangan, duhai,,

Lelah aku lihat
Harusnya, ideologi itu sudah musnah
Jangan
Hedonisme,
Habislah kau
Kapitalisme
Mampuslah kau
Demokrasi
Busuklah kau,

Dan peradaban ini, sudah saatnya,
Kau mati, atau hanya sekedar menunda kekalahan.
Atau, kau akan membusuk, diantara liang - liang..

(Hentikan memiskinkan kami, Ya' Ismail Ahbar )

SAJAK PUTIH


Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…