I. Gambaran Umum Anak Autis
A. Pengertian Anak Autis
Lumbantobing
(2002, 82) menyatakan bahwa anak autis adalah kondisi anak yang mengalami
gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup bidang sosial dan afektif,
komunikasi verbal dan non-verbal, imajinasi, fleksibilitas, minta, kognisi dan
atensi. Ini suatu kelainan dengan ciri perkembangan yang terlambat atau yang
abnormal dari hubungan sosial dan bahasa. Hembing (2002, 1), menyatakan bahwa
autis adalah gangguan perkembangan pada anak yaitu gangguan perkembangan
neurobiologis yang disertai dengan beberapa masalah seperti masalah
autoiminitas, gangguan pencernaan, dysbiosis pada usus, gangguan integrasi
sensori, keracunan logam berat, ketidakseimbangan asam amino dalam tubuh, jamur
candida, bocor usus, abnormalitas sosial dan komunikasi, keterbatasan aktivitas
dan minat serta masalah neorologis lainnya. Jadi anak autis adalah anak yang
mengalami gangguan perkembangan fungsi otan yang ditandai dengan adanya
kesulitan pada kemampuan interaksi sosial, komunikasi dengan lingkungan,
perilaku dan adanya keterlambatan pada bidang akademis.
B.
Jenis-jenis
Autis
Berdasarkan
waktu munculnya gangguan perkembangan autis dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Autis
sejak lahir
Gejala ini dapat di deteksi sejak
umur 4-6 bulan, namun biasanya orangtua baru tahu setelah anak berumur 2 tahun.
Dicurigai adanya keterlambatan bicara dan jika dapat diketahui sejak lahir maka
peluang sembuh lebih besar.
2. Autis
Regresif
Perkembangan anak sejak lahir
normal seperti anak lainnya, tetapi setelah 1,5- 2 Tahun ada kemunduran dengan
perkembangannya. Beberapa keterampilan yang telah diperoleh tiba-tiba hilang
dan muncul kemampuan baru. Kontak mata hilang saat berbicara dengan orang lain,
biasanya orang tua menyadari ketika umur anak 2 tahun dan membawanya ke dokter.
Sementara itu, Yatim (2002) mengelompokkan anak
autis menjadi 3 jenis sebagai berikut:
1. Autis
persepsi
Autis persepsi dianggap autisme
asli dan disebut juga autisme internal (endogenous) karena kelainan sudah
timbul sebelum lahir. Gejala yang dapat diamati sebagai berikut:
a. Rangsangan
dari luar yang kecil maupun yang kuat, akan menibulkan kecemasan. Tubuh akan
mengadakan mekanisme dan reaksi pertahanan hingga terlihat pengembangan masalah.
b. Banyaknya
pengaruh rangsangan dari orang tua, tidak bisa ditentukan. Orang tua tidak
ingin peduli terhadap kebingungan dan kesengsaraan anak,
c. Pada
kondisi begini orang tua baru peduli atas kelainan anaknya sambil menimbulkan
rangsangan-rangsangan yang dapat memperat kebingungan anak,
d. Pada
saat ini si bapak menyalahkan si ibu karena kurang memiliki kepekaan naluri
keibuan. Si bapak tidak menyadari halk tersebut malah memperberat kebingungan
anak.
2. Autis
Reaktif
Pada autis reaktif penderita
membuat gerakan-gerakan tertentu yang berulang-ulang dan kadang-kadang disertai
kejang-kejang
3. Autis
yang timbul kemudian
Kelainan di kenal setelah anak agak
besar, sehingga sulit memberikan pelatihan dan pendidikan untuk mengubah
perilaku yang sudah melekat.
C. Penyebab Anak Autisme
Lumbatobing
(2001; 84) menyatakan bahwa gangguan autistik disebabkan oleh:
1. Family
(2 % pada saudara kandung lain),
2. Abnormalitas
kromosom,
3. Prenatal,
adanya beberapa penyakit tertentu seperti : Rubella, sipilis, Tuberus
sclerosis,
4. Neonatal,
Lahir dengan alat bantu, premature, berat bayi lahir rendah, usia kandungan
yang kurang dari 9 bulan,
5. Pascanatal,
jatuh pada syaraf tertentu maka pada hati-hati kalau jatuh jangan sampai
terkena kepala atau tulang belakang, dan penyakit tertentu seperti sipilis,
6. Anak
autisme dapat diketahui faktor penyebabnya 20-30 %.
D. Karakteristik Anak Autis
Karakteristik
anak autis merupakan prilaku khas yang meliputi pengetahuan, sikap atau ucapan
yang sering ditunjukkan jika dihadapkan pada suatu objek atau situasi tertentu
yang dapat mendorong tertunjuknya prilaku tersebut. Yuniar (2002) menyatakan
karakteristik anak autisme disebut juga dengan trias autistik yang meliputi
tiga gangguan yaitu:
1.
Gangguan atau keanehan dalam berinteraksi
dengan lingkungan (orang sekitar, obyek dan situasi)
2.
Gangguan dalam kemampuan berkomunikasi
baik verbal maupun non verbal
3.
Gangguan atau keanehan dalam berprilaku
motorik, minat yang terbatas dan respon sensoris yang kurang memadai. Lebih
lanjut Yuniar (2002) merinci karakteristik anak autis sebagai berikut.
a. mempertahankan
rutinitas atau sulit menyesuaikan diri dengan perubahan
b. terlambat
dalam perkembangan bahasa
c. sering
ngoceh atau menggunakan bahasanya sendiri
d. bila
sudah bisa berbicara sulit diajak berdialog
e. sering
menarik tangan orang dewasa bila menginginkan sesuatu
f. kadang
menirukan pertanyaan atau suara yang di dengarnya
g. menangis,
tertawa atau marah tanpa sebab yang jelas
h. Menyendiri
atau acuh pada suasana sekitar,
i. Takut pada benda, suara atau suasana tertentu,
j. Kadang
mengamuk bila keinginan tidak terpenuhi,
k. Sulit
bermain dengan teman sebaya,
l. Kontak
mata sangat kurang,
m. Sulit
diajak dengan cara yang biasa,
n. Cara
bermain yang tidak wajar dan monoton, seperti senang membuang-buang,
membariskan barang-barang, memutar benda, membuka-buka buku,
o. Suka sekali benda tertentu, seperti botol
shampoo, alat dapur, karet gelang, dan merobek-robek kertas,
p. Kurang
sensitif atau sangat sensitif terhadap rasa sakit,
q. Hiperaktif
atau sangat sensitive terhadap rasa sakit,
r. Cuek
bila diajak bicara,
s. Menutup
telinga bila mendengar suara tertentu,
t. mencederai diri sendiri atau orang lain yang
didekatinya
u. senang
pada benda yang berputar
v. tak
tertarik pada mainan atau menggunakan mainan tidak sesuai dengan fungsinya
w. tidak bisa bermain dengan pura-pura
x. sering
melakukan gerakan yang beulang-ulang
Nakita
(2002) menyatakan bahwa karakteristik anak autis meliputi aspek-aspek berikut
1.
Kesulitan berkomunikasi (verbal dan non
verbal)
a. Jika
berkeinginan sesuatu dengan menarik tangan orag lain untuk mendapatkan itu
b. Kaku
dengan kegiaan rutin mereka
c. Lebih
tertarik terhadap benda daripada manusia
2.
Gerak motorik yang berulang-ulang
seperti
a. Hyperaktif
(aktif bergerak sepanjang hari)
b. Hypoaktif
(diam sepanjang hari)
c. Tidak
menyadari atas kehadiran orang lain
d. Menunjukkan
kegiatan bermain yang tertinggal jauh dengan anak seusianya,
e. Hand
flapping artinya sering mengepak-ngepakkan tangan atau jari.
E. Kriteria anak usia dini
Criteria
anak autis yang digunakan pada usia dini adalah berdasarkan diagnosis secara
klinis yaitu criteria DSM-IV ( Diagnositik and Statistik Manual-IV) yang
dikembangkan oleh kelompok psikiater anak diamerika tahun 1994 (Lumbantobing,
2001-85).
1) Gangguan
kualitatif interaksi sosial,bermanifestasi pada
a. Gangguan
yang nyata pada perilaku non verbal multiple
b. Gagal
mengembangkan hubungan antar sebaya sesui dengan tingkat-tingkat perkemangannya
c. Kurang
spontanitas membagi kegembiraan, kesenangan dan interes
d. Kurang
hubungan sosial emosional secara timbale
2).
Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi seperti
a.
terlambat atau tidak perkembangan bahasa lisan
b.
pada individu yang bicaranya memadai, terdapat gangguan yang nyata ada
kemampuan memulai dan mempertahan kan percakapan dengan orang lain
c.
penggunaan bahasa stereotype
d.
kurang ragan bermain yang memadai atau bermain sosial imitasi sesuai dengan
tingkat perkembangan
3).
Gangguan perilaku, interes dan aktifitas yang bermanifestasi pada
a.
perhatian terpaku pada salah satu objek
b.
gerakan yang stereotype dan repetitive
c,
tampak ritual-ritual spesifik dilakuakn anak yang sifatnya non fungsional
d,
perhatiannya terfokus pada bagian-bagian suatu objek.
F. Terapi bagi Anak Autis
Nakita
(2002: 29-30) menyatakan bahwa terapi bagi anak penyandang autism, sebagai
berikut:
a.
Terapi Biomedika
Terapi
ini menggunakan obat-obatan untuk mengontrol gejala autisme. Dasar pemikirannya
gangguan dalam tubuh akan memunculkan gangguan perilaku, sehingga ganugguan
dalam tubuh dapat di atasi gangguan perilakunya akan berkurang. Uniar (2002;
5-6), menambahkan terapi Biomedika meliputi:
1. Penggunaan
obat-obatan, antibiotika dan anti jamur,
2. Pengaturan
diet,
3. Perbaikan
enzim pencernaan,
4. Penambahan
vitamin dan mineral.
b.
Terapi Alternatif
Semua
terapi baru yang masih terus berlanjut dengan penelitian-penelitian, yang
termasuk terapi ini sebagai berikut:
1) Terapi
Detoksifikasi,
Terapi ini menggunakan pengerahuan
nutrisi dan toksikologiyaitu paparan bahan-bahan beracun dari lingkungan yang
telah merusak tubuh kita sampai molekul. Kandungan bahan beracun itulah
dianggap mengganggu perkembangan normal otak pada anak penyandang autism. Bahan
beracun itu berupa merkuri, timah dan timbale yang mengganggu kerja otak.
Tujuan terapi ini untuk mengeluarkan racun yang menumpuk dalam tubuh anak,
2) The
option Method
Terapi bertujuan meningkatkan
kebahagiaan penyandang autisme dengan membantu menemukan system kepercayaan
diri. Dasar pemikiran anak autis cenderung menutup diri terhadap dunia luar
atau hidup di dunianya sendiri. Karena itu diciptakan kondisi interaksi sosial
dengan orang lain terutama orang tua.
3) Sensori
Integration Therapy
Kemampuan integrasi adalah
kemampuan untuk memproses impuls yang diterima oleh berbagai indera secara
simultan. Terapi ini bertujuan meningkatkan kesadaran sensori dan merespon
terhadap stimulus sensori.
4) Terapi
pijat refleksi
Dasar pemikiran terapi ini organ
tubuh mengalami gangguan fungsi normal, sakit, atau penyakit akibat sirkulasi
darah tidak lancer atau kelebihan asam laktat. Maka dengan tekanan, gosokan,
pada titik meridian atau titik refleksi tubuh sirkulasi darah lancar atau asam
laktat keluar melalui eksresi, sehingga organ tubuh akan berfungsi normal
5) Terapi
tingkah laku
Dasar pemikirannya bahwa perilaku
yang diinginkan maupun tidak diinginkan dapat dikontrol atau dibentuk sistem
hadiah dan hukuman.
6) Terapi
dengan tenaga dalam
Dasar pemikiran terapi ini teori
keseimbangan biolistik dalam tubuh, yaitu jika terjadi keseimbangan pada
sel-sel tubuh organ tubuh akan berfungsi normal, sebaliknya jika tidak akan
mengalami sakit atau penyakit (Suparto, 26-27)
II. IDENTIFIKSI ANAK AUTIS
A.
PENGERTIAN IDENTIFIKASI ANAK AUTIS
Identifikasi
merupakan proses pengumpulan data atau informasi tentang dilakukan individu
anak yang relevan untuk membuat keputusan, baik yang dilakukan oleh guru
umum,guru pendidikan khusus, psikologi, terapi dan personal lainnya yang
berkepentingan dengan program pendidikan anak (salim, 1996). Dalam
penyelenggaraan pendidikan bagi anak autism diperlukan tersedianya informasi
atau data yang tepat yang berhubungan dengan :
1. Kondisi
anak
2. Riwayat
perkembangan dan pertumbuhan
3. Riwayat
kesehatan
4. Pola
hubungan anak dengan orang tua, dan lain-lain yang diperoleh dari kegiatan
identifikasi
B.
TUJUAN IDENTIFIKASI
Kegiatan
identifikasi anak autisme bertujuan unuk memperoleh data atau informasi anak
dan lingkungannya, yang berguna untuk mengetahui sebab terjadinyaa autisme,
kemampuan dan ketidakmampuan fisik dan psikis anak serta untuk merancang
program perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing anak.
C.
RUANG LINGKUP IDENTIFIKASI ANAK AUTIS
Ruang
lingkup atau cakupan data atau informasi yang dikumpulkan meliputi :
1. Identifikasi
anak dan keluarganya
2. Riwayat
anak, sejak dalam kaandungan, saat kelahiran sampai dengan proses pertumbuhan
dan perkembangan anak
3. Data
tentang kemampuan dan ketidakmampuan fisik, psikis, dan sosial
4. Indikattor
perilaku anak autism yang meliputi :
a) bahasa
atau komunikasi
b) hubungn
dengan orang
c) hubungan
dengan lingkungan
d) respon
terhadap ransangan indera atau sensoris
e) kesenjangan
perilaku
D.
TEKHNIK IDENTIFIKASI ANAK AUTIS
Untuk
memperoleh data tentang anak dan lingkungan dapat digunakan tekhnik sebagai
berikut
1. Tekhnik
wawancara
Teknik ini digunakan untuk
mengungkapkan data melalui orang tua anak.
2. Tekhnik
observasi
Teknik ini dilakukan melalui
pengamatan pada anak yang diduga autisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar