Sabtu, 12 Mei 2012

Anak Berkebutuhan Khusus Part 5

I. Gambaran Umum Anak Autis
A.   Pengertian Anak Autis
Lumbantobing (2002, 82) menyatakan bahwa anak autis adalah kondisi anak yang mengalami gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup bidang sosial dan afektif, komunikasi verbal dan non-verbal, imajinasi, fleksibilitas, minta, kognisi dan atensi. Ini suatu kelainan dengan ciri perkembangan yang terlambat atau yang abnormal dari hubungan sosial dan bahasa. Hembing (2002, 1), menyatakan bahwa autis adalah gangguan perkembangan pada anak yaitu gangguan perkembangan neurobiologis yang disertai dengan beberapa masalah seperti masalah autoiminitas, gangguan pencernaan, dysbiosis pada usus, gangguan integrasi sensori, keracunan logam berat, ketidakseimbangan asam amino dalam tubuh, jamur candida, bocor usus, abnormalitas sosial dan komunikasi, keterbatasan aktivitas dan minat serta masalah neorologis lainnya. Jadi anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan fungsi otan yang ditandai dengan adanya kesulitan pada kemampuan interaksi sosial, komunikasi dengan lingkungan, perilaku dan adanya keterlambatan pada bidang akademis.

B.    Jenis-jenis Autis
Berdasarkan waktu munculnya gangguan perkembangan autis dapat dibedakan sebagai berikut:
1.     Autis sejak lahir
Gejala ini dapat di deteksi sejak umur 4-6 bulan, namun biasanya orangtua baru tahu setelah anak berumur 2 tahun. Dicurigai adanya keterlambatan bicara dan jika dapat diketahui sejak lahir maka peluang sembuh lebih besar.
2.     Autis Regresif
Perkembangan anak sejak lahir normal seperti anak lainnya, tetapi setelah 1,5- 2 Tahun ada kemunduran dengan perkembangannya. Beberapa keterampilan yang telah diperoleh tiba-tiba hilang dan muncul kemampuan baru. Kontak mata hilang saat berbicara dengan orang lain, biasanya orang tua menyadari ketika umur anak 2 tahun dan membawanya ke dokter.
Sementara itu, Yatim (2002) mengelompokkan anak autis menjadi 3 jenis sebagai berikut:
1.     Autis persepsi
Autis persepsi dianggap autisme asli dan disebut juga autisme internal (endogenous) karena kelainan sudah timbul sebelum lahir. Gejala yang dapat diamati sebagai berikut:
a.      Rangsangan dari luar yang kecil maupun yang kuat, akan menibulkan kecemasan. Tubuh akan mengadakan mekanisme dan reaksi pertahanan hingga terlihat pengembangan masalah.
b.     Banyaknya pengaruh rangsangan dari orang tua, tidak bisa ditentukan. Orang tua tidak ingin peduli terhadap kebingungan dan kesengsaraan anak,
c.      Pada kondisi begini orang tua baru peduli atas kelainan anaknya sambil menimbulkan rangsangan-rangsangan yang dapat memperat kebingungan anak,
d.     Pada saat ini si bapak menyalahkan si ibu karena kurang memiliki kepekaan naluri keibuan. Si bapak tidak menyadari halk tersebut malah memperberat kebingungan anak.
2.     Autis Reaktif
Pada autis reaktif penderita membuat gerakan-gerakan tertentu yang berulang-ulang dan kadang-kadang disertai kejang-kejang
3.     Autis yang timbul kemudian
Kelainan di kenal setelah anak agak besar, sehingga sulit memberikan pelatihan dan pendidikan untuk mengubah perilaku yang sudah melekat.
C.   Penyebab Anak Autisme
Lumbatobing (2001; 84) menyatakan bahwa gangguan autistik disebabkan oleh:
1.     Family (2 % pada saudara kandung lain),
2.     Abnormalitas kromosom,
3.     Prenatal, adanya beberapa penyakit tertentu seperti : Rubella, sipilis, Tuberus sclerosis,
4.     Neonatal, Lahir dengan alat bantu, premature, berat bayi lahir rendah, usia kandungan yang kurang dari 9 bulan,
5.     Pascanatal, jatuh pada syaraf tertentu maka pada hati-hati kalau jatuh jangan sampai terkena kepala atau tulang belakang, dan penyakit tertentu seperti sipilis,
6.     Anak autisme dapat diketahui faktor penyebabnya 20-30 %.

D.   Karakteristik Anak Autis
Karakteristik anak autis merupakan prilaku khas yang meliputi pengetahuan, sikap atau ucapan yang sering ditunjukkan jika dihadapkan pada suatu objek atau situasi tertentu yang dapat mendorong tertunjuknya prilaku tersebut. Yuniar (2002) menyatakan karakteristik anak autisme disebut juga dengan trias autistik yang meliputi tiga gangguan yaitu:
1.     Gangguan atau keanehan dalam berinteraksi dengan lingkungan (orang sekitar, obyek dan situasi)
2.     Gangguan dalam kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non verbal
3.     Gangguan atau keanehan dalam berprilaku motorik, minat yang terbatas dan respon sensoris yang kurang memadai. Lebih lanjut Yuniar (2002) merinci karakteristik anak autis sebagai berikut.
a.      mempertahankan rutinitas atau sulit menyesuaikan diri dengan perubahan
b.     terlambat dalam perkembangan bahasa
c.      sering ngoceh atau menggunakan bahasanya sendiri
d.     bila sudah bisa berbicara sulit diajak berdialog
e.      sering menarik tangan orang dewasa bila menginginkan sesuatu
f.      kadang menirukan pertanyaan atau suara yang di dengarnya
g.     menangis, tertawa atau marah tanpa sebab yang jelas
h.     Menyendiri atau acuh pada suasana sekitar,
i.        Takut pada benda, suara atau suasana tertentu,
j.       Kadang mengamuk bila keinginan tidak terpenuhi,
k.     Sulit bermain dengan teman sebaya,
l.       Kontak mata sangat kurang,
m.   Sulit diajak dengan cara yang biasa,
n.     Cara bermain yang tidak wajar dan monoton, seperti senang membuang-buang, membariskan barang-barang, memutar benda, membuka-buka buku,
o.      Suka sekali benda tertentu, seperti botol shampoo, alat dapur, karet gelang, dan merobek-robek kertas,
p.     Kurang sensitif atau sangat sensitif terhadap rasa sakit,
q.     Hiperaktif atau sangat sensitive terhadap rasa sakit,
r.      Cuek bila diajak bicara,
s.      Menutup telinga bila mendengar suara tertentu,
t.        mencederai diri sendiri atau orang lain yang didekatinya
u.     senang pada benda yang berputar
v.     tak tertarik pada mainan atau menggunakan mainan tidak sesuai dengan fungsinya
w.     tidak bisa bermain dengan pura-pura
x.     sering melakukan gerakan yang beulang-ulang
     Nakita (2002) menyatakan bahwa karakteristik anak autis meliputi aspek-aspek berikut
1.     Kesulitan berkomunikasi (verbal dan non verbal)
a.      Jika berkeinginan sesuatu dengan menarik tangan orag lain untuk mendapatkan itu
b.     Kaku dengan kegiaan rutin mereka
c.      Lebih tertarik terhadap benda daripada manusia
2.     Gerak motorik yang berulang-ulang seperti
a.      Hyperaktif (aktif bergerak sepanjang hari)
b.     Hypoaktif (diam sepanjang hari)
c.      Tidak menyadari atas kehadiran orang lain
d.     Menunjukkan kegiatan bermain yang tertinggal jauh dengan anak seusianya,
e.      Hand flapping artinya sering mengepak-ngepakkan tangan atau jari.

E.    Kriteria anak usia dini
Criteria anak autis yang digunakan pada usia dini adalah berdasarkan diagnosis secara klinis yaitu criteria DSM-IV ( Diagnositik and Statistik Manual-IV) yang dikembangkan oleh kelompok psikiater anak diamerika tahun 1994 (Lumbantobing, 2001-85).
1)     Gangguan kualitatif interaksi sosial,bermanifestasi pada
a.      Gangguan yang nyata pada perilaku non verbal multiple
b.     Gagal mengembangkan hubungan antar sebaya sesui dengan tingkat-tingkat perkemangannya
c.      Kurang spontanitas membagi kegembiraan, kesenangan dan interes
d.     Kurang hubungan sosial emosional secara timbale
2). Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi seperti
a. terlambat atau tidak perkembangan bahasa lisan
b. pada individu yang bicaranya memadai, terdapat gangguan yang nyata ada kemampuan memulai dan mempertahan kan percakapan dengan orang lain
c. penggunaan bahasa stereotype
d. kurang ragan bermain yang memadai atau bermain sosial imitasi sesuai dengan tingkat perkembangan
3). Gangguan perilaku, interes dan aktifitas yang bermanifestasi pada
a. perhatian terpaku pada salah satu objek
b. gerakan yang stereotype dan repetitive
c, tampak ritual-ritual spesifik dilakuakn anak yang sifatnya non fungsional
d, perhatiannya terfokus pada bagian-bagian suatu objek.
F.    Terapi bagi Anak Autis
            Nakita (2002: 29-30) menyatakan bahwa terapi bagi anak penyandang autism, sebagai berikut:
a.      Terapi Biomedika
Terapi ini menggunakan obat-obatan untuk mengontrol gejala autisme. Dasar pemikirannya gangguan dalam tubuh akan memunculkan gangguan perilaku, sehingga ganugguan dalam tubuh dapat di atasi gangguan perilakunya akan berkurang. Uniar (2002; 5-6), menambahkan terapi Biomedika meliputi:
1.     Penggunaan obat-obatan, antibiotika dan anti jamur,
2.     Pengaturan diet,
3.     Perbaikan enzim pencernaan,
4.     Penambahan vitamin dan mineral.
b.     Terapi Alternatif
Semua terapi baru yang masih terus berlanjut dengan penelitian-penelitian, yang termasuk terapi ini sebagai berikut:
1)     Terapi Detoksifikasi,
Terapi ini menggunakan pengerahuan nutrisi dan toksikologiyaitu paparan bahan-bahan beracun dari lingkungan yang telah merusak tubuh kita sampai molekul. Kandungan bahan beracun itulah dianggap mengganggu perkembangan normal otak pada anak penyandang autism. Bahan beracun itu berupa merkuri, timah dan timbale yang mengganggu kerja otak. Tujuan terapi ini untuk mengeluarkan racun yang menumpuk dalam tubuh anak,
2)     The option Method
Terapi bertujuan meningkatkan kebahagiaan penyandang autisme dengan membantu menemukan system kepercayaan diri. Dasar pemikiran anak autis cenderung menutup diri terhadap dunia luar atau hidup di dunianya sendiri. Karena itu diciptakan kondisi interaksi sosial dengan orang lain terutama orang tua.
3)     Sensori Integration Therapy
Kemampuan integrasi adalah kemampuan untuk memproses impuls yang diterima oleh berbagai indera secara simultan. Terapi ini bertujuan meningkatkan kesadaran sensori dan merespon terhadap stimulus sensori.
4)     Terapi pijat refleksi
Dasar pemikiran terapi ini organ tubuh mengalami gangguan fungsi normal, sakit, atau penyakit akibat sirkulasi darah tidak lancer atau kelebihan asam laktat. Maka dengan tekanan, gosokan, pada titik meridian atau titik refleksi tubuh sirkulasi darah lancar atau asam laktat keluar melalui eksresi, sehingga organ tubuh akan berfungsi normal
5)     Terapi tingkah laku
Dasar pemikirannya bahwa perilaku yang diinginkan maupun tidak diinginkan dapat dikontrol atau dibentuk sistem hadiah dan hukuman.
6)     Terapi dengan tenaga dalam
Dasar pemikiran terapi ini teori keseimbangan biolistik dalam tubuh, yaitu jika terjadi keseimbangan pada sel-sel tubuh organ tubuh akan berfungsi normal, sebaliknya jika tidak akan mengalami sakit atau penyakit (Suparto, 26-27)

II. IDENTIFIKSI ANAK AUTIS
A.    PENGERTIAN IDENTIFIKASI ANAK AUTIS
Identifikasi merupakan proses pengumpulan data atau informasi tentang dilakukan individu anak yang relevan untuk membuat keputusan, baik yang dilakukan oleh guru umum,guru pendidikan khusus, psikologi, terapi dan personal lainnya yang berkepentingan dengan program pendidikan anak (salim, 1996). Dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak autism diperlukan tersedianya informasi atau data yang tepat yang berhubungan dengan :
1.     Kondisi anak
2.     Riwayat perkembangan dan pertumbuhan
3.     Riwayat kesehatan
4.     Pola hubungan anak dengan orang tua, dan lain-lain yang diperoleh dari kegiatan identifikasi

B.    TUJUAN IDENTIFIKASI
Kegiatan identifikasi anak autisme bertujuan unuk memperoleh data atau informasi anak dan lingkungannya, yang berguna untuk mengetahui sebab terjadinyaa autisme, kemampuan dan ketidakmampuan fisik dan psikis anak serta untuk merancang program perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing anak.

C.    RUANG LINGKUP IDENTIFIKASI ANAK AUTIS
Ruang lingkup atau cakupan data atau informasi yang dikumpulkan meliputi :
1.     Identifikasi anak dan keluarganya
2.     Riwayat anak, sejak dalam kaandungan, saat kelahiran sampai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan anak
3.     Data tentang kemampuan dan ketidakmampuan fisik, psikis, dan sosial
4.     Indikattor perilaku anak autism yang meliputi :
a)     bahasa atau komunikasi
b)     hubungn dengan orang
c)     hubungan dengan lingkungan
d)     respon terhadap ransangan indera atau sensoris
e)     kesenjangan perilaku

D.    TEKHNIK IDENTIFIKASI ANAK AUTIS
Untuk memperoleh data tentang anak dan lingkungan dapat digunakan tekhnik sebagai berikut
1.     Tekhnik wawancara
Teknik ini digunakan untuk mengungkapkan data melalui orang tua anak. 
2.     Tekhnik observasi
Teknik ini dilakukan melalui pengamatan pada anak yang diduga autisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar