Rabu, 04 April 2012

Penelitian Tindakan Kelas


TUGAS INDIVIDU
Mata kuliah:  Penelitian Tindakan Kelas
Dosen pembimbing :  Prof. Dr. Aunurrahman M.Pd
Nama               : YA’ ISMAIL AHBAR
NIM                : F54009005

PROGRAM STUDI PG – PAUD
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNG PURA PONTIANAK
2012


BAB I
HAKIKAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A.    Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas merupakan upaya untuk mencari jawaban yang dapat dijadikan sebagai upaya untuk mencari jawaban yang dapat dijadikan
sebagai upaya atau alternatif pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Hopkins (1993) : pengertian penelitian tindakan kelas adalah suatu studi yang sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki praktik-praktik dalam pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi dari tindakan-tindakan tersebut.

B.     Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Beberapa karakteristik PTK adalah
1.      PTK diprakarsai dan dilaksanakan oleh guru
2.      PTK berangkat dari permasalahan nyata dikelas
3.      PTK mensyaratkan adanya tindakan yang berlanjut untuk memperbaiki proses pembelajaran
4.      Adanya refleksi diri.


BAB II
Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
A.    Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
Peningkatan kualitas pembelajaran di kelas merupakan tujuan utama dan pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Bilamana semua konnponen yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran di kelas dapat didorong secara optimal, sehingga pada akhirnya siswa-siswa dapat mencapai perubahan kemampuan dengan baik , maka sekolah tersebut akan mampu mewujudkan kinerja yang diharapkan. Akan tetapi bilamana siswa-siswa di kelas memiliki prestasi yang rendah, komponen-komponen pembelajaran tidak mampu didorong perannya secara optimal, maka kita sulit berharap bahwa sekolah tersebut mampu mencapai fungsinya dengan haiR.
Peningkatan atau perbaikan praktik pembelajaran ini perlu dilakukan secara terus menerus, karena perkembangan dalam berbagai aspek kehidupan yang terus berkembang secara dinarnis. Oleh sebab 1w tuntutan rnasyarakat terhadap perbaikan layanan pendidikan juga semakin meningkat. PTK merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan layanan pendidikan dengan cara melakukan perbaikan-perbaikan proses pembelajaran.
Secara keseluruhan penelitian tindakan kelas bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Perbaikan atau peningkatan praktik pembelajaran di kelas merupakan tujuan antara, sedangkan tujuan akhirnya adalah peningkatan mutu hasil pendidikan. Karena 1W kemampuan mengembangkan potensi-potensi siswa di kelas merupakan elemen kunci bagi upaya-upaya peningkatan kualitas pendidikan dalam skala yang lebih luas.
B.     Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Dirjen Dikdasmen (2004:9) mengemukakan beberapa kelebihan atau manfaat penelitian tindakan, yaitu:
1.      Menumbuhkan inovasi dan perbaikan.
2.      Memacu tumbuhnya semangat kolaborasi antar komponen pendidikan di sekolah, yaitu guru, siswa, staff pimpinan dan masyarakat/orang tua.
3.      Meningkatkan profesionalisme guru.
Wardani (2003:1.16) mendeskripsikan beberapa manfaat PTK bagi guru, bagi siswa maupun bagi sekolah.
1.      Manfaat bagi Guru
a.       Memperbaiki proses dan hasil pembelajaran yang dikelolanya.
b.      Mempercepat berkembangnya profesionalisme guru.
c.       Mendorong guru untuk lebih percaya diri.
2.      Manfaat bagi pembelajar / siswa
Dengan melaksanakan PTK, kesalahan dalam proses pembelajaran akan cepat dianalisis dan diperbaiki, sehingga kesalahan tersebut tidak akan berlanjut. Jika kesalahan dapat diperbaiki, hasil belajar siswa diharapkan menin9kat. Sebaliknya, jika kesalahan dalam proses pembelajaran dibiarkan berlarut-larut, maka guru akan tetap mengajar dengan cara yang sama sehingga hasil belajar siswapun tetap sama, bahkan mungkin menurun.
Disamping meningkatkan hasil belajar siswa, PTK yang dilaksanakan gurujuga dapat menjadi model bagi siswa. Guru yang terampil melaksanakan PTK akan selalu kritis terhadap hasil belajar siswa, sehingga siswa merasa mendapat perhatian khusus dan guru.
Cara kerja yang sistematik dan terarah merupakan hal-hal positif yang dapat dijadikan siswasiswa sebagai contoh. Bilamana kegiatan ini  telah rnenjadi suatu kebiasaan di setiap sekolah dan tiap kelas, maka berarti pula siswa dibiasakan untuk melakukan sesuatu secara terarah dan sistematik.


3.      Manfaat PTK bagi sekolah
Manfaat apa bagi sekolah bilamana para gurunya banyak yang terampil melaksanakan PTK. Hargreaves (dalam Hopkins, 1993), mengemukakan bahwa sekolah yang berhasil mendorong terjadinya inovasi pada diri para guru, telah berhasil pula meningkatkan kualitas pendidikan untuk para siswa. Pernyataan ini menunjukkan betapa eratnya hubungan perkembangan sekolah dengan perkembangan kemampuan guru. Sekolah tidak akan berkembang atau hanya akan mengalami sedikit perkembangan tanpa berkembangnya kemampuan guru. Demikian pula sebaliknya, guru akan sangat sulit berkembang bilamana sekolah tidak memiliki inovasi dan perkembangan.


Bab IV
Perencanaan Penelitian Tindakan Kelas
A.    Mengidentifikasi Masalah
Tidak semua guru. mampu merasakan adanya masalah, meskipun tidak mustahil semua guru mempunyai rnasalah yang berkaitan dengan praktek pembelajaran yang dikelolanya. Bahkan mungkin ada guru yang mendiamkan saj masalahnya, meskipun ía sendiri merasa bahwa ada sesuat yang tidak beres dikelasnya, yang memerlukan perbaikan segera.
Pertanyaan yang dapat dijadikan panduan untuk men identifikasi masalah.
1.      Apa yang menjadi keprihatinan Anda (guru, kepala sekolah)
2.      Mengapa Anda memprihatinkannya?
3.      Menurut Anda, apa yang dapat Anda lakukan untuk itu?
4.      Bukti-bukti apa yang dapat Anda kumpulkan agar dapat membantu membuat penilaian tentang apa yang terjadi
5.      Bagaimana Anda mengumpulkan bukti-bukti tersebut?
6.      Bagaimana Anda melakukan pengecekan terhadar kebenaran dan keakuratan tentang apa yang telah tenjadi:
Wardani (2003:2.5) memaparkan beberapa bentuk pertanyaan sederhana untuk menjadi acuan di dalam mengidentifikasi masalah yang dapat dijawab oleh guru sendiri.
1.      Apa yang sedang terjadi di kelas saya?
2.      Masalah apa yang ditimbukan oleh kejadian itu ?
3.      Apa pengaruh masalah tersebut bag! kelas saya ?
4.      Apa yang akan tenjadijika masalah tersebut saya biarkan ?
5.      Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi masalah tersebut atau memperbaiki situasi yang ada?
B.     Menganalisis dan Merumuskan Masalah
Menganalisis rnasalah merupakan langkah yang harus dilakukan guru setelah melakukan identifikasi. Jika melalui identifikasi kita dapat menemukan beberapa masalah yang terkait dengan kegiatan pembelajaran di kelas, maka analisis bertujuan agar masalah tersebut menjadi lebih jelas dan dapat rnenduga faktor-faktor penyebabnya. Identifikasi masalah akan menghasilkan daltar masalah. Guru sebagai peneliti selanjutnya perlu melakukan analisis, Tanpa melakukan analisis, mungkin masalah yang kita identifikasi rnasih kabur, Analisis dapat kita lakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiei atau yang disebut refleksi, dan dapat pula dengan mengkaji ulang berbagai dokurnen seperti pekerjaan siswa, daftar hadir, atau daftar nilai, persiapan mengajar atau bahkan rnungkin bahan pelajaran yang kita siapkan.
Analisis masalah mempunyal beberapa tujuan, yaitu: a) rnendapatkan kejelasan masalah yang sesungguhnya, b) menemukan kemungkinan faktor penyebab, c) menentukan kadar permasalahan.
Jika guru dapat bersikap jujur dan terbuka pada dirinya sendiri, Ia akan mengembangkan sejuini ah pertanyaan Iebih lanjut. Misalnya apakah cara saya mengajar yang kurang menarik. Mungkin metode mengajar yang kurang bervariasi. Ataukah pendekatan kepada siswa-siswa belum dapat saya lakukan secara baik . Mungkinkah saya kurang melibatkan mereka dalam pembahasan materi sehingga saya nampak terlalu mendominasi proses pembelajaran yang seharusnya saya dapat melibatkan mereka secara aktif. Atau saya kurang mendayagqnakan media dan sumber-sumber belajar, sehingga mereka menjadi jenuh dengan penjelasan yang saya berikan. Secara langsung maupun tidak langsung ketika guru melakukan analisis masalah seperti lrii Ia juga sudah terlibat di dalam memikirkan faktor-faktor penyebabnya. Keadaan seperti mi merupakan Iangkah yang positif untuk kelanjutan tahapan di dalam PTK.
Untuk membantu mempertajam analisis masalah, guru dapat menganalisis beberapa komponen berikut:
1.      Menganalisis daftar hadir siswa.
2.      Menganalisis daftar nilal siswa untuk menemukan bagaimana hasil belajar yang mereka peroleh.
3.      Menganalisis tugas-tugas yang diberikan kepada siswa beserta bahan pelajaran yang dipakai, apakah tugas-tugas dan bahan pelajaran tersebut cukup menantang atau membosankan.
4.      Menganalisis balikan (feedback) yang diberikan guru terhadap pekerjaan siswa. Apakah balikan tersebut membuat siswa frustasi atau mendorong siswa untuk memperbaiki pekerjaannya.
Jika kita telah melakukan analisis masalah secara cermat, maka masalah yang akan Anda kaji sekarang sudah menjadi semakin jelas. Langkah berikut yang Anda akukan adalah merumuskan masalah.
Abimayu (dalam Wardani, 2003) mengingatkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan masalah. Agar guru tidak mengalami kesulitan di dalam mengembangkan PTK perlu diingat kembali beberapa hal berikut;
1.      Jangan memilih masalah yang Anda tidak kuasai.
2.      Ambillah topik yang skalanya kecil dan relatif terbatas.
3.      Pilih masalah yang dirasakan paling penting bagi Anda dan murid Anda.
4.      Kaitkan masalah dengan upaya pengembangan sekolah.
Sebelum marumuskan hipotesis tindakan, perlu diingat kembali bahwa tidak mungkin dengan satu tindakan, semua masalah terpecahkan. Juga tidak semua masalah memerlukan pemecahan melalui PTK. Untuk menentukan masalah mana yang menjadi prioritas untuk dikaji atau dipecahkan melalui PTK berikut ada beberapa hal yang dapat menjadi acuan:
  1. Masalah harus benar-benar penting bagi guru yang bersangkutan serta bermakna dan bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran guna meningkatkan kualitas pendidikan.
  2. Masalah harus dalam jangkauan kemampuan guru dalam melaksanakan tindakan di kelas.
  3. Masalah yang telah Anda pilih untuk dipecahkan rnelalui penelitian tindakan harus dirumuskan secara jelas agar dapat mengungkap berbagai faktor penyebab utamanya sehingga memungkinkan dicari alternatif pemecahannya. Jika Anda tidak mampu merumuskan secara spesifik masalah, maka pemecahan yang akan dilakukan akan sangat sulit mencapai sasarannya secara mendalam.

Bab V
Menilai Kelayakan Hipotesis
Tindakan
A.    Memahami Hipotesis Tindakan
Secara umum, hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan tentang hubungan dua variabel atau Iebih (Kerlingen, 1993), Hipotesis juga dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampal terbukti melalui data yang terkumpul. Hipotesis selalu mengambil bentuk kalimat pernyataan dan menghubungkan secara umum maupun khusus antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Di dalam penelitian ilmiah, hipotesis merupakan alat yang penting. Ada tiga alasan yang menopang alasan mi. Pertama, hipotesis dapat dikatakan sebagal piranti kerja teori. Hipotesis dapat dijabarkan dan teori-teori dan dan hipotesis lain. Kedua, hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan betul dan salahnya, yang diuji adalah relasi (hubungan).
Borg & Gall (2003), mengajukan beberapa persyaratan untuk merumuskan hipotesis:
  1. Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas. Hipotesis harus  dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel.
  2. Hipotesis harus didukung oleh teori yang dikemukakan oleh para abli atau hasil penelitian yang relevan.
Pengertlan hipotesis tindakan sedikit berbeda dengan hipotesis konvensional seperti diuraikan di atas. Jika hipotesis konvensional menyatakan adanya huburigan antara dua vaniabel atau Iebih, atau menyatakan adanya perbedaan antara dua variabel atau lebih. Hipotesis tindakan tidak menyatakan demikian. Hipotesis tindakan hendaknya dipahami sebagai suatu dugaan yang bakat terjadi jika suatu tindakan dilakukan (Sudarsono, 1997: 9). Sebagai contoh:”jika intensitas latihan membuat kalimat ditingkatkan, maka siswa akan lebih mudah menyusun suatu karangan.
Hipotesis tindakan harus dibuat atau dirumuskan dengan melakukan kajian terhadap teori, atau dengan mengkaji pengalaman dalam praktik pembelajaran yang telah dilakukan. Beberapa pakar menyarankan agar dalam merumuskan hipotesis tindakan guru dapat melakukan beberapa bentuk kegiatan.
  1. Kajian literatur khususnya teori pendidikan atau pembelajaran.
  2. Kajian hasil-hasil penelitian yang relevan dengan perrrasalahan.
  3. Kajian hasil diskusi dengan rekan sejawat, pakar, peneliti  dan lain-lain.
  4. Kajian pendapat dan saran pakar pendidikan
Melakukan kajian literatur merupakan suatu kegiatan dimana guru sebagal peneliti berupaya menghlmpuri, memilah dan menganalisis berbagal sumber tulisa• McMillan dan Schumecher (2001), melihat pentingnya peran kajian literatur ini karena kegiatan ini akan membantu peneliti menetapkan secara cermat signfikansi masalah yang akan diteliti sehingga akan semakin mampu membimbing pikiran peneliti untuk membatasi masalah penelitiannya, menembangkan rencana penelitian, memilih metode dan alat ukur yang tepat serta mengembangkan hipotesis.
B.     Menilai Kelayakan Hipotesis Tindakan
Melalui pemahaman tentang makna hipotesis penelitian secara umum dan memahami hipotesis tindakan sebagaimana dipaparkan terdahulu, diharapkan kita telah memperoeh landasan atau kerangka dasar untuk membangun hipotesis tindakan.
Penilaian hipotesis tindakan harus diarahkan pada penilaian  kelayakan tindakan. Penilaian kelayakan tindakan dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan seperti contoh berikut.
  1. Apakah saya memiliki pengetahuan berkenaan dengan hal itu?
  2. Apakah saya dan siswa saya memiliki kemampuan untuk melaksanakannya?
  3. Apakah tersedia sarana/fasilitas untuk mendukung kegiatan tersebut?
  4. Apakah tersedia waktu yang cukup untuk melaksanakan rangkaian kegiatan tersebut?
  5. Apakah iklim sekolah dan kim belajar di kelas cukup mendukung peiaksanaan tindakan?
Selain pentingnya pemahaman terhadap substansi tindakan, juga sangat penting pemahaman guru tentang prosedur pengembangannya melalui PTK. Guru harus memahami hal-hal yang berkaitan dengan PTK, baik cara merencanakan, melaksanakan, pengumpulan dan analisis data dan refleksi serta hal-hal lain yang terkait dengan pelaksanaan PTK. Dengan demikian berarti secara umum ada dua hal yang harus dipahami guru, yaitu; Pertama, pemahaman tentang hal yang berkaitan dengan substansi tindakan yang dipilih sebagai solusi pemecahan masalah pembelajaran. Kedua, pemahaman berkenaan dengan PTK itu sendiri..
Menilai kelayakan hipotesis tindakan sama artinya mengkaji secara cermat kelayakan tindakan yang dipilih untuk memecahkan masalah pembelajaran yang dihadapi.
Beberapa hal yang perlu dijadikan dasar untuk memperhatikan kelayakan hipotesis tindakan adalah; (1) kemampuan untuk melaksanakan tindakan, (2) ketersediaan sarana/fasilitas, (3) kecukupan waktu, (4) iklim sekolah dan iklim belajar di kelas. Agar hipotesis tindakan dapat diiaksanakan dan terbukti mampu membawa perubahan yang diharapkan, maka sebelum merumuskan hipotesis sebaiknya kita mengkaji kembali rumusan masalah yang telah disusun sebelumnya.


BabVI
Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas
A.    Memahami Proposal PTK
Dalam berbagam sumber, mungkin kita sering menemui istilah proposal penelitian, kadang kala juga disebut usulan penelitian Pada prinsipnya kedua istilah atau sebutan tersebut terarah pada pengertian, yang sama,jadi tidak perlu kita permasalahkan Usulan penelitian atau proposal penelitian bisa berfungsi sebagai rencana pelaksanaan penelitian, alat komunikasi antara peneliti dengan konsultan atau dengan penyandang dana maupun dengan anggota peneliti. Secara umum proposal penelitian menguraikan tentang masalah penelitian, bagaimana penelitian itu akan dilaksanakan, serta rnengapa penelitian itu perlu dilakukan.
Untuk memudahkan pemahaman kita, perlu kita ditekankan bahwa proposal penelitian PTK bisa bersifat formal, semi formal dan bisa juga bersifat tidak resmi atau informal. Proposal yang bersifat resmi adalah proposal yang disusun oleh peneliti biasanya bertujuan untuk mendapatkan dukungan dana atau diminta oleh pihak tertentu.
Untuk keperluan ini biasanya pihak penyandáng dana sudah memberikan rambu-rambu format proposal yang harus dilkuti, kriteria penilaian, juini ah dana yang disediakan, rentang waktu, bahkan kadang-kadang juga diatur hal-hal sangat teknis, seperti warna cover, juini ah halaman, jenis dan ukuran serta hal-hal lain yang mereka anggap perlu. Proposal semi forral adalah proposal yang disusun oleh peneliti untuk keperluan terbatas dalam ruang Iingkup tertentu, misalnya ruang lingkup jurusan atau fakultas untuk perguruan tinggi, atau sekolah. Proposal ini prinsipnya juga dikembangkan berdasarkan rambu-rambu yang telah dipahami peneliti, atau rambu-rambu yang disusun sendiri oleh lingkungan tersebut, akan tetapi tidak terlalu ketat dengan aturan-aturan sehagaimana proposal formal. Tujuan penyusunan proposal ini juga bersifat terbatas untuk lingkungan tersebut, dan kadang-kadang juga berkaitan dengan perolehan dana untuk mendukung kegiatan yang diusulkan. Sedangkan proposal yang digolongkan tidak formal atau tidak resmi adalah proposal yang disusun sebagai kerangka acuan untuk keperluan peneliti sendiri, tidak terkait dengan perolehan dana dan sifatnya tidak terlalu kaku.
Mungkin melalui berbagal sumber bacaan, kita menjumpal format yang berbeda tentang proposal PTK. Jika menemui hal seperti itu kita tidak perlu merasa bingung, sebab perbedaan - perbedaan tersebut sangat dimungkinkan terjadi dan tidak dilarang untuk dikaji dan diikuti.Yang penting kita memahami setiap bagian yang kita kaji tersebut.
B.     Bagian-bagian Proposal PTK
Berikut ini kita uraikan beberapa bagian pokok tersebut beserta sub-sub bagiannya.
1.      Halaman – halaman pengantar
Bagian ini paling tidak terdiri dan dua halaman, yaitu halaman judul dan halaman pengesahan. Halaman judul memuat judul penelitian, nama penyusun proposal dan instansinya. Sedangkan halaman pengesahan berisi:
a.       Judul dan bidang ilmu/studi
b.      Nama lengkap ketua tim/peneliti dengan gelar, pangkat & golongan, NIP, dan asal lembaga,
c.       Lokasi penelitian
d.      Lama penelitian
e.       Biaya penelitian yang diusulkan (jika mengusulkan dana)
f.       Sumber pendanaan (jika mengusulkan dana)
g.      Tempat dan tanggal pembuatan proposal
h.      Tanda tangan ketua tim/peneliti
i.        Tanda tangan kepala lembaga asal peneliti (SD/SMP/SMA/ SM K)
2.      Halaman – halaman isi
a.       Judul Penelitian
b.      Latar belakang masalab
c.       Permasalahan
d.      Cara pemecahan masalah
e.       Tujuan dan manfaat PTK
Tujuan yang bersifat umum tersebut akan lebih baik  jika dijabarkan menjadi beberapa tujuan yang lebih spesifik, misalnya;
1)      Untuk mengetahui cara pengaturan diskusi kelompok.
2)      Untuk mendapat kejelasan tentang intensitas keterlibatan siswa di dalam pelaksanaan diskusi kelompok.
3)      Untuk mendapatkan kejelasan peran guru di dalam pelaksanaan diskusi kelompok.
4)      Untuk mengetahum cara kelompok mengkomunikasikan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dalam penyelesaian latihan.
5)      Untuk mengetahui cara guru melaksanakan bimbingan kelompok.
6)      Untuk mengetahui hasil latihan yang dicapai oleh kelompok dan masing-masing siswa.
f.       Kerangka teori dan hipotesis
g.      Rancangan dan Metodologi Penelitian
1)      Penataan penelitian
2)      Aspek-aspek yang diselidiki
3)      Langkah-Iangkah kegiatan
4)      Analisis dan refleksi
5)      Tim peneliti
h.      Jadwal penelitian
i.        Rancangan anggaran
Di samping sistematika proposal yang dipaparkan di atas, mungkin kita menemukan format yang berbeda. Keadaan seperti ini  merupakan hal yang tidak perlu dipermasalahkan.
C.     Rambu-rambu Penilaian Proposal
Penilaian kelayakan proposal pada umumnya diterapkan bagi proposal penelitian yang disusun untuk memperoleh dukungan biaya dari lembaga-lembaga yang tertentu. Penilaian kelayakan proposal mengacu pada kriteria yang telah ditentukan. Kriteria penilaian  tersebut memuat aspek-aspek yang dinilal serta bobot penilaiannya yang menjadi kerangka acuan bagi para penilai proposal dalam menentukan tingkat kelayakan suatu proposal.


Bab VII
Persiapan dan Pelaksanaan PenehtianTindakan Kelas

A.    Persiapan Pelaksanaan PTK
Berikut ini adalah contoh tindakan-tindakan pembelajaran yang harus dilakukan guru terkait dengan hipotesis tindakan yang telah dirumuskan di atas;
1.      Guru akan memperkaya penjelasan materi pelajaran dengan memperbanyak pemberian contoh nyata,
2.      Guru akan memperkecil peran dalam pembuatan contoh-contoh untuk memperjelas materi pelajaran, kecuali memang sangat diperlukan.
3.      Peran siswa didorong seoptimal mungkin untuk mengungkapkan contoh-contoh yang diperlukan,
4.      Setiap akan mengakhiri pelajaran, siswa diminta untuk menyimpulkan sendiri mater! pokok yang telab disampaikan.
5.      Dalam penyimpulan materi pelajaran ini sepenuhnya ditugaskan kepada siswa. Guru hanya memberikan stressing (penekanan) untuk hal-hal yang sangat diperlukan.
6.      Guru akan mencermati perubahan dan peningkatan motivasi belajar siswa.
7.      Jika guru telah menyusun garis besar tindakan pembelajaran yang akan dilakukan, maka selanjutnya guru melakukan langkah-langkah keglatan yang sekaligus memberikan ciri bagi guru yang melaksanakan PTK.
a.       Membuat rencana pembelajaran beserta scenario tindakan yang akan dilaksanakan
b.      Merurnuskan kompotensi
c.       Merumuskan indikator keberhasilan
d.      Memilih Bahan Ajar.
e.       Memilih Metode
f.       Memilih Alat Bantu.
g.      Mempersiapkan Alat Ukur
h.      Memperjelas skenario pembelajaran.
B.     Melaksanakan PTK
Perlu diingat kembali bahwa hal yang sangat prinsip bahwa pelaksanaan PTK bukan bagian terpisah dan pelaksanaan proses pembelajaran (Kemis &Taggart (1991). Jadi guru yang melaksanakan PTK menurut pengamatan pihak luar hampir tidak berbeda dengan guru-guru lain yang tidak melaksanakan PTK, karena pada dasarnya guru bersangkutan tidak merubah jam mengajarnya, jadwal pelajarannya, alokasi waktu yang dipergunaa serta siswa yang diajar.
Pada tahap awal melaksanakan penelitian , guru perlu memperhatikan secara cermat keadaan dan kemampuan Siswa melalui pengamatan yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya. Hal ini terutama berkenaan dengan gambaran tentang keadaan kelas, perilaku siswa sehari-hari, perhatian terhadap pelajaran yang disampaikan oleh guru, dan sikap siswa terhadap mata pelajaran tersebut Jika penelitian yang dilakukan guru menggunakan indikator perubahan hasil belajar Iswa, atau berkenaa, dengan penguasaan mateni pelajaran, maka sebelum guru melakukan tindakan perbaikan melalui PTK, perlu dilakukan tes untuk mengetahul seberapa jauh pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki Siswa tentang mateni pelajaran.
Secara lebib rinci beberapa Hal yang harus diperhatikan guru di dalam mengawali dan mengimplemtasikan PTK diuraikan berikut ini :
  1. Mempersiapkan kondisi kelas
  2. Mempersiapkan siswa
sebaiknya guru melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan kesiapan siswa sebagal berikut;
a.       Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan materi yang akan dipelajari atau dibahas.
b.      Menjelaskan pentingnya kesiapan dan kesungguhan SiSwa
c.       Menjelaskan tugas-tugas atau kegiatan apa yang akan dikerjakan siswa dan bagaimana melakukannya.
d.      Mengingatkan siswa akan keterbatasari waktu yang tersedia agar mereka dapat menggunakannya secara efektif.
  1. Mempersiapkan sarana/fasilitas
  2. Menyiapkaa alat - alat bantu pembelajaran, termasuk kelengkapan pengumpulan data
  3. Implementasi di kelas


Bab VIII
Pengumpulan Data Penelitian Tindakan Kelas
A.    Jenis-jenis Data Dalam Penelitian
Di dalam  kegiatan penelitian, keberadaan data merupakan komponen yang sangat penting, karena seperti apapun penelitian yang dirancang oleb peneliti tujuannya adalah untuk memperoleh data.
1.      Data nominal
Data nominal adalah suatu data yang hanya terpilah menjadi dua bagian atau dua pilihan, atau dua kategori di mana yang satu dengan lainnya terpisah secara tegas (Kerlingger, 1993; Babie, 1986; Gay, 1981).
2.      Data ordinal
Data ordinal ialah suatu data yang rnenunjukkan urutan daam kedudukan masing-masing data/data urutan peringkat/jenjang yang t[dak rnenunjukkan kuantitas absolut (Kerlingger, 1993).
3.      Data interval
Data interval adalah suatu data yang menunjukkan jarak yang memiliki ciri nominal dan ordinal. Di samping lu jarak keangkaan yang sama pada skala interval mewakili jarak yang sama pula dalam hal pemilikan sifat yang diukur.
4.      Data ratio
Data ratio adalah data pengukuran yang sangat tinggi, yang mempunyai dri-ciri skala nominal, ordinal, dan Interval, dan juga memiliki nol mutlak atau nol natural yang mengandung makna empirik. Jika suatu pengukuran menggunakan nol pada suatu skala rasio, maka dapat dikatakan bahwa obyek tertentu tidak memiliki sifat yang sedang diukur. Angka-angka pada skala rasio menunjukan besaran sesungguhnya pada sifat yang diukur. Untuk ilmu sosial jarang sekali rnenggunakan skala rasio.
B.     Teknik Pengumpulan Data dengan Tes
Seorang peneliti dapat menggunakan berbagai teknik, Penggunaan dan salah satu atau beberapa teknik pengumpulan data sangat tergantung pada Jenis data yang akan dikumpulkan, tujuan penelitian dan tentu saja pemahaman peneliti tentang teknik yang akan dipergunakan tersebut serta kemampuannya untuk melaksanakan dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang terkait. Sebagai conth seorang peneliti melakukan penelitian tentang motivasi dan hasil belajar siswa pada beberapa sekolah yang telah ditentukannya
Teknik tes atau kadang-kadang juga disebut system testing merupakan usaha untuk memahami atau memperoleh data tentang siswa. Dalam pandangan lain juga dikemukakan bahwa tes sebagai suatu prosedur yang sistematis untuk mengobservasi (mengamati) tingkah laku individu, dan menggambarkan atau mendeskripsikafl  tingkah laku itu melalui skala angka atau system kategori. Jika defenisi ini dianalisis, maka kita menemukan beberapa hal penting yang dapat kita simpulkan yaitu;
1.      Tes adalah suatu bentuk tugas yang terdiri dan sejuini ah pertanyaan atau perintah-penintah.
2.      Tes diberikan kepada seorang anak atau sekelompok anak untuk dikerjakan,
3.      Bahwa respon atau jawaban anak atau kelompok anak tersebut dinilai.
4.      Penggunaan teknik tes, khususnya tes prestasi belajar bagi guru di sekolah bertujuan untuk;
a.       Menilai kemampuan belajar munid
b.      Membenikan bimbingan belajar kepada munid
c.       Mengecek kemajuan belajar
d.      Memahami kesulitan-kesulitan betajar
e.       Memperbaiki teknik mengajar
f.       Menilai efektivitas (keberhasilan) mengajar.
Dalam pembahasan tentang bentuk-bentuk, Gall & Borg (2002:209) mengemukakan terdapat beberapa bentuk tes performance, yaltu; (a) intelligence tests atau tes intelegensi, (b) atitude tests atau tes sikap, (c) achievement tests atau tes hasil belajar, (d) diagnostic tests atau tes diagñaostic, dan performance assessment atau penilaian kinerja.
Pentingnya pemahamari tentang tes sebagal salah satu teknik pengumpulan data digambarkan dalam contoh pengambilan data dengan Skala Inteligensi Stanford-Binet sebagaimana dipaparkan (Arikunto, 1998), kasus di mana ada enam orang wanita dan enam orang pria melaksanakan tes Stanford Binet terhadap sampel anak-anak usia 4 tahun. Hasil tes menunjukkan anak-anak yang dites oleb wanita mencapat 10 yang lebih tinggi (89,61) dibandingkan dengan anak-anak yang dites oleh pria (83,16), suatu perbedaan yang cukup signifikan.
Untuk meningkatkan obyektivitas hasil tes ada beberapa hal yang perlu dilakukan;
a.       Memberi kesempatan berlatih kepada tester (orang yang melaksanakan tes).
b.      Menggunakan tester lebih dan satu orang, kemudian hasilnya dibandingkan.
c.       Melengkapi instrument tes dengan manual atau pedoman pelaksanaan selengkap dan sejelas mungkin.
d.      Menciptakan situasi tes sedemikian rupa sehingga membantu tester (orarig yang mengerjakari tes) tldak mudah terganggu oleh lirigkungan
e.       Memilih situasi tes sebaik-baiknya, misalriya bukan malam Minggu, bukan dalam keadaan udara yang sangat panas, bukan sehabis liburari panjang, menjelang ujian, dan sebagainya.
f.       Perlu menciptakan kerjasarna yang baik  dan rasa sating percaya antara testeryang satu dengan tester lainnya.
g.      Menentukan waktu untuk mengerjakan tes secara tepat, baik ketepatan pelaksanaan maupun lamanya.
h.      Memperoleh izin dan atasan jika tes tersebut dilaksanakan di sekolah atau di kantor-kantor.
C.     Penggunaan Teknik Non Tes untuk Pengumpulan Data PTK
1.      Pengamatan atau Observasi
Dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya sudab ditekankan bahwa pelaksanaan tindakan di dalam PTK secara bersamaan juga dilakukan observasi dan interpretasi, sehinyga dapat dikatakan pelaksanaan tindakan dan observasi/interPretasi berlangsung secara simultan. Artinya, data yang diarnati tersebut langsung dflnterpretasikan. tidak sekedar di rekam.
Misalnya, sebagaimana yang dirujuk oleh Joni (1998L pengamatan ala Flanders yang hanya merekam data dalam tiga kategori yaitu; pembicaraan guru, pembicaraan slswa, dan sepi (tanpa pembicaraan), tidak memerlukan interpretasi pada saat rekaman dilakukan. lnilah yang dinamakan “low-inference observation’, sedangkan. pengamatan yang mempersyaratkan interpretasi atau penafslran ketika merekam data disebut sebagal “high-inference observation
Pelaksanaan observasi sebagal alat pengumpulan data memerlukan persiapan. Salah satu komponen yang perlu diperhatikan di dalam persiapan pelaksanaan observasi adalah cara perekaman data. Artinya, apa yang harus direkam dan bagaimana merekamnya melalul observasi tersebut harus ditentukan secara jelas.
Agar teknik observasi ini dapat kita pahami dengan baik serta dapat Anda pergunakan sesual dengan prosedur yang benar, berikut ini  mari kita bahas bersama beberapa aspek yang berkaitan dengan observasi, mulai dan pninsip dan jenis-jenisnya. tujuannya, serta prosedur pelaksanaannya.
a.       Prinsip dan Jenis Observasi
Ada beberapa hal yang penlu dilakukan guru;
1)      Guru harus memutuskan apa yang akan diajarkan serta apa yang harus siswa lakukan di dalam pencapaian tujuan pembelajaran
2)      Guru harus mernutuskan bagaimana konsekuensi tujuan pembelajaran dan prosedur pembelajaran.
3)      Guru harus nemutuskan bagaimarla prosedur atau metode melaksanakarx pembelajaran.
4)      Guru perlu memutuskan bahan yang dlpergunakan dan bagairnana menyajikannya kepada siswa.
5)      Guru harus menentukan bagaimana menata atau mengontrol situasi pembelajaran di kelas.
6)      Guru harus memutuskari cara mengorganisasi waktu yang tersedia di dalam kegiatan pembelalaran.
7)      Guru harus memutuskan cara mengelompokkan sswa di dalam proses pembelalaran
8)      Guru harus memutuskan cara menciptakan llngkunclafl kelas dengan baik .
9)      Guru harus  menentukan kapan dan bilamana dipenlukan resourcher person untuk mendukung kelancaran kegiatan pembelajaran
b.      Tujuan / Sasaran Observasi
Muss (2000), menjelaskan bahwa observasi bertujuan mengamati aktivitas siswa, aspek-aspek fisik dan suatu situasi tertentu sebagal sumber informasi yang dapat memperkaya informasi-informasi yang lain. Observasi juga bertujuan untuk mengumpulkan data yang dipenlukan untuk menjawab masalah tertentu. Dalam penetitian format, observasi bertujuan mengumpiilkan data yang vahid dan variabel (sahih dan handal).
c.       Prosedur Observasi
Pada dasarnya, prosedur atau Iangkah-langkah observasi terdini dad tiga tahap, yaitu: pertemuan pen-dahuluan, obserjasi, dan diskusi balikan. Ketiga tahap mi sering disebut sebagal siktus pengamatan yang poputer dipakaf dalam supervisi klinis, baik  dalam pembimbing calon guru maupun dalam memberikan bantuan profesional bagi guru yang sudah bertugas. Siklus ini dapat digambarkan sebagai berikut :
1)      Pertemuan – pertemuan
2)      Pelaksanaan observasi
3)      Diskusi balikan



2.      Wawancara
Wawancara mungkmn merupakan alat yang paling purba dan paling sering digunakan manusia untuk memperoleh informasi (Kerlingger, 1993). Wawancara memiliki sifat-sifat penting yang tidak dipunyai oleh tes-tes pada skala obyektil dan pengamatan behavioral. Apabila digunakan dengan menygunakan rencara yang tersusun baik, maka wawancara dapat menghasilkan banyak informasi yang bersifat tleksibel dan dapat diadaptasi untuk situasi-situasi individual, serta seningkali dipergunakan bilamana tidak ada metode lain yang dimungkinkan atau memadai.
Wawancara dapat dipergunakan untuk tiga maksud utama. Pertama wawancara dapat dipergunakan sebagai alat eksplorasi untuk identifikasi varibel dan relasi, mengajukan hipotesis, dan memandu tahap-tahap lain di dalam penelitian. Kedua, wawancara dapat menjadi instrumen utama penelitian. Dalam hal ini pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengukur aspek-aspek yang diteliti dimasukkan ke dalam panduan wawancana dalam keadaan mi, pertanyaan-pertanyaan harus dipandang sebagai butirbutir (item soal) dalam suatu instrument penelitian, bukan sekedar sebagai sarana menghimpun informasi belaka. Ketiga, wawancara itu dapat digunakan sebagai penopang atau pelengkap metode lain. Dalam keadaan mi wawancara dapat benfungsi menggali lebib mendalam motivasi responden serta alasan-alasan responden membenikan jawaban dengan cara-cara tertentu.
Di dalam penelitian kualitatif, wawancara (interview) oleh banyak kepustakaan dikemukakan di dalam berbagai terminologi, misalnya disebut intensive interviewing, in&pth interviewing, ataupun instructured interviewing, yang berarti  suatu percakapan yang terarah dengan tujuan mengum pulkan atau memperkaya informasi atau bahan-bahan (data) yang mendetil (kaya atau padat), yang hasil akhirnya untuk digunakan untuk analisis kualitatif (Mantja, 1993; McMiIlan & Schumacher, 2001). Perbedaan dengan wawancara terstruk tur yang bertujuan untuk memperoleh pilihan di antara berbagai alternatif jawaban terhadap pertanyaan yang ditampilkan dan sebuah topik atau situasi, adalah bahwa wawancara mendalam , mendetil atau intensif berupaya menemukan pengalaman-pengalaman informan atau responden dan topik tertentu atau situasi spesifik yang dikaji, Dalam pandangan Lofland and Lofiand (1983), bahwa bagian tetbesar dan data observasi peranserta pada dasarnya diperoleh melalui wawancara informal dan yang disempurnakan melalui observasi. Karena tu pengamatan peranserta dan wawancara mendalam  merupakan teknik sentral dalam penelitian kualitatif. OIeh karena itu keduanya harus dipandang dan penekanan penggunaannya dengan memperhatikan saling keterkaitannya.
a.       Bentuk-bentuk Wawancara
Secara umum ada beberapa benruk wawancara yang sening dipengunakan di dalam pengumpulani data penelitian. Patton (1987) mengemukakan bebenapa bentuk wawancara, yaitu; (a) wawancara pembicaraan informal, (b) pendekatan dengan menggunakan pet unjuk umum wawancana, dan (c) wawancana baku terbuka.
3.      Melaksanakan Wawancara
Di dalam pengumpulan data melalui wawancara, ada dua kegiatan yang sangat mendasar dan saling terkaft, yaitu mengembangkan hubungari baik  (raooort) dan mengejar perolehan infonmasi. Keduanya penting dan menuntut perhatian khusus peneliti. Dalam pengumpulan data, jangan sampai terjadi kegiatan yang satu mengorbankan kegiatan aspek lain. Misalnya, karena peneliti khawatir data yang akan dikumpulkan tidak Iengkap, rnaka ia mengabaikan aspekaspek yang berkenaan dengan pembinaan hubungan yang baik  dengan informan dengan maksud agar waktu yang dipergunakan wawancara dapat dipergunakan secara efektjf, Sebaliknya juga tidak boleh terjadi, lantaran sangat menaruh perhatian di dalam pembinaan hubungan yang harmonis dengan inforrnan, data yang dikumpulkan menjadi sangat sedikit dan tidak lengkap, karena waktu yang tersedia ebih banyak untuk melakukan sesuatu yang diarahkan untuk menciptakan hubungan baik tersebut OIeh sebab itu secara gas besarnya ada tiga kegiatan yang berkaitan dengan petaksanaan wawancara yaitu; (1) Memulai wawancara, (2) mengajukan pertanyaan pokok sekaligus perekaman data, (3) mengakhiri wawancara.




BAB X
Penyusunan Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas
A.    substansi Laporan Penelitian
Istilah laporan memiliki dua macam pengertian atau definisi, seperti yang dipaparkan berikut ini :
1.      Cerita yang dibawakan oleb seseorang kepada orang lain, terütama tentang suatu hal yang diteliti secara khusus.
2.      Pernyataan formal tentang hasil penelitian, atau apa saja yang memerlukan informasi yang pasti, yang dibuat oleb seseorang atau badan yang diperintahkan atau diharuskan untuk melakukan hal itu.
Dalam menulls laporan hasil penelitian, terdapat berbagai bentuk dan format dan mulai yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit. Bentuk aporan yang akan anda pelajani mi adalah hanya salah satu bentuk saja dari suatu laporan, yaitu laporan penelitian tindakan kelas (PTK).
Tujuan menulis laporan secara sederhana adalah untuk mencatat, membenitahukan, dan merekomendasikan hasil penelitian. Dengan demikian, apa pun yang ditakukan sebeum, selama, dan setelah peneiltian berakhir, semuanya terdokumentasikan dengan baik , dan kemudian dapat dikomunikasikan ke berbagai pihak. Dalam penelitian pada umumnya, isinya merupakan laporan hasil penelitian yang berupa temuan baru dalam bentuk teori, konsep, metode, dan prosedur, atau permasalahan yang perlu dicarikan cara pemecahannya.
Sejalan dengan karakteristhknya, laporan setiap hasil penelitian tindakan kelas (PTK) selalu dUkuti dengan suatu thndakan (action). Kemudian dilakukan pemantaUan (ob-. servash), dengan maksud untuk mengamati apakah masalah yang dibahas dalam penelitian sudah dapat diatash, ataukah justru muncul permasalahan lain. Kalau memang muncul msalah baru, maka peneliti PTK harus r-nenyusun rencana kembali untuk selanjutnya, dan dihkuti shklus dan tahapan berikutnya, dan seterusnya. Kegiatan ini terus berputar dan berulang sehingga tidak ada permasalahan yang tertunda penanganannya.
B.     Struktur laporan PTK
Struktur laporan merupakan bagian yang sangat mendasar dalam sebuah laporan, karena format laporan akan merupakan kerangka berpikir yang dapat memberikan arab penulisan, sehingga memudahkan anda dalam menulis laporan. Struktur ini  harus sudah anda persiapkan sebelum penelitian dilakukan, yaitu pada saat anda menulis proposal. Ibarat membangun rumah, wujud akhir dan sebuah rumah sudah akan kelihatan ketika kerangka stnukturdasarbangunan rumah tersebut sudah berhasil ditegakkan, begitu jugalah halnya dengan format laporan penelitian.
Dalam penelitian PTK laporan bukan hanya menyampaikan hasil dan kegiatan penelitian semata-mata, akan tetapi juga mendeskripsikan semua Iangkah, dan mulai menemukan masalah, merencanakan (plan), melakukan tindakan (action), mengamati (observation), dan merefleksi (reflection), kemudian kembali ke rencana (revised plan).
Karya iImiah, termasuk laporan penelitian tindakan kelas hatus ditulis dengan rnemperhatikan prinsip-prinsip ilmiah. Pa!ing tidak, terdapat tiga prinsip ilmiah yang menjadi prasyarat suatu karya tulis ilmiab, yaitu: (a) mempersoalkan kebenaran, (b) menggunakan pendekatan atau metode ilmiah, dan (3) ditulis dengan teknik tatatulis ilmiah.
Pada aspek kebenaran, ada tiga kriteria yang menjadi patokan, yaitu koherensi, korepondensi, dan pragmatik. Metode non-ilmiah yang Perlu dihindari adalah kebetulan, trial and eror, serta otoritas dan kewibawaan. Sementara itu, pendekatan yang terrnasuk kategori metode ilniiah adalah metode induktif, metode deduktif, reflective thinking, dan penelitian. Adapun mengenai teknik tatatulis ilmiah, yang perlu mendapatkan perhatian adalah penggunaan bahasa resmi dan baku, taat asas, seeta memperhatikan kelaziman.
Kahmat yang digunakan dalam laporan harus cermat sesuai dengan gramatika, sintaks dan gaya penulisannya. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam membuat laporan adalah sinkronisasi antara masalah, tujuan, hipotesis, tindakan, dan kesimpulan. Dalam suatu penelitian, termasuk PTK berangkat atau masalah sebagai titik tolak kegiatan penelitian yang difokuskan pada usaha upaya perbaikan proses pembelajaran sehingga hasilnya dan kesimpulannya harus berupa cara untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa laporan hasil PTK adalah cara untuk memecahkan permasalahan yang anda hadapi dalam proses pembelajaran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar