TUGAS
INDIVIDU
Mata
kuliah: Penelitian Tindakan Kelas
Dosen
pembimbing : Prof. Dr. Aunurrahman M.Pd
Nama : YA’ ISMAIL
AHBAR
NIM : F54009005
PROGRAM
STUDI PG – PAUD
JURUSAN
ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TANJUNG PURA PONTIANAK
2012
BAB
I
HAKIKAT
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A.
Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan kelas merupakan upaya untuk mencari
jawaban yang dapat dijadikan sebagai upaya untuk mencari jawaban yang dapat
dijadikan
sebagai upaya atau alternatif pemecahan masalah yang sedang dihadapi.
Hopkins (1993) : pengertian penelitian tindakan kelas adalah suatu studi yang
sistematis yang dilakukan dalam upaya memperbaiki praktik-praktik dalam
pendidikan dengan melakukan tindakan praktis serta refleksi dari
tindakan-tindakan tersebut.
B.
Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
Beberapa karakteristik PTK adalah
1.
PTK diprakarsai dan dilaksanakan oleh guru
2.
PTK berangkat dari permasalahan nyata dikelas
3.
PTK mensyaratkan adanya tindakan yang berlanjut untuk
memperbaiki proses pembelajaran
4.
Adanya refleksi diri.
BAB
II
Tujuan
dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
A.
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
Peningkatan kualitas pembelajaran di kelas merupakan
tujuan utama dan pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Bilamana semua
konnponen yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran di kelas dapat didorong
secara optimal, sehingga pada akhirnya siswa-siswa dapat mencapai perubahan
kemampuan dengan baik , maka sekolah tersebut akan mampu mewujudkan kinerja
yang diharapkan. Akan tetapi bilamana siswa-siswa di kelas memiliki prestasi
yang rendah, komponen-komponen pembelajaran tidak mampu didorong perannya
secara optimal, maka kita sulit berharap bahwa sekolah tersebut mampu mencapai
fungsinya dengan haiR.
Peningkatan atau perbaikan praktik pembelajaran ini
perlu dilakukan secara terus menerus, karena perkembangan dalam berbagai aspek
kehidupan yang terus berkembang secara dinarnis. Oleh sebab 1w tuntutan
rnasyarakat terhadap perbaikan layanan pendidikan juga semakin meningkat. PTK
merupakan salah satu cara yang strategis bagi guru untuk meningkatkan layanan
pendidikan dengan cara melakukan perbaikan-perbaikan proses pembelajaran.
Secara keseluruhan penelitian tindakan kelas bertujuan
untuk meningkatkan mutu pendidikan. Perbaikan atau peningkatan praktik
pembelajaran di kelas merupakan tujuan antara, sedangkan tujuan akhirnya adalah
peningkatan mutu hasil pendidikan. Karena 1W kemampuan mengembangkan
potensi-potensi siswa di kelas merupakan elemen kunci bagi upaya-upaya
peningkatan kualitas pendidikan dalam skala yang lebih luas.
B.
Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Dirjen Dikdasmen (2004:9) mengemukakan beberapa
kelebihan atau manfaat penelitian tindakan, yaitu:
1.
Menumbuhkan inovasi dan perbaikan.
2.
Memacu tumbuhnya semangat kolaborasi antar komponen
pendidikan di sekolah, yaitu guru, siswa, staff pimpinan dan masyarakat/orang
tua.
3.
Meningkatkan profesionalisme guru.
Wardani (2003:1.16) mendeskripsikan beberapa manfaat PTK
bagi guru, bagi siswa maupun bagi sekolah.
1.
Manfaat bagi Guru
a.
Memperbaiki proses dan hasil pembelajaran yang
dikelolanya.
b.
Mempercepat berkembangnya profesionalisme guru.
c.
Mendorong guru untuk lebih percaya diri.
2.
Manfaat bagi pembelajar / siswa
Dengan melaksanakan PTK, kesalahan dalam proses pembelajaran
akan cepat dianalisis dan diperbaiki, sehingga kesalahan tersebut tidak akan
berlanjut. Jika kesalahan dapat diperbaiki, hasil belajar siswa diharapkan
menin9kat. Sebaliknya, jika kesalahan dalam proses pembelajaran dibiarkan
berlarut-larut, maka guru akan tetap mengajar dengan cara yang sama sehingga hasil
belajar siswapun tetap sama, bahkan mungkin menurun.
Disamping meningkatkan hasil belajar siswa, PTK yang
dilaksanakan gurujuga dapat menjadi model bagi siswa. Guru yang terampil
melaksanakan PTK akan selalu kritis terhadap hasil belajar siswa, sehingga
siswa merasa mendapat perhatian khusus dan guru.
Cara kerja yang sistematik dan terarah merupakan hal-hal
positif yang dapat dijadikan siswasiswa sebagai contoh. Bilamana kegiatan ini telah rnenjadi suatu kebiasaan di setiap
sekolah dan tiap kelas, maka berarti pula siswa dibiasakan untuk melakukan
sesuatu secara terarah dan sistematik.
3.
Manfaat PTK bagi sekolah
Manfaat apa bagi sekolah bilamana para gurunya banyak
yang terampil melaksanakan PTK. Hargreaves (dalam Hopkins, 1993), mengemukakan
bahwa sekolah yang berhasil mendorong terjadinya inovasi pada diri para guru,
telah berhasil pula meningkatkan kualitas pendidikan untuk para siswa.
Pernyataan ini menunjukkan betapa eratnya hubungan perkembangan sekolah dengan
perkembangan kemampuan guru. Sekolah tidak akan berkembang atau hanya akan
mengalami sedikit perkembangan tanpa berkembangnya kemampuan guru. Demikian
pula sebaliknya, guru akan sangat sulit berkembang bilamana sekolah tidak
memiliki inovasi dan perkembangan.
Bab
IV
Perencanaan
Penelitian Tindakan Kelas
A.
Mengidentifikasi Masalah
Tidak semua guru. mampu merasakan adanya masalah,
meskipun tidak mustahil semua guru mempunyai rnasalah yang berkaitan dengan
praktek pembelajaran yang dikelolanya. Bahkan mungkin ada guru yang mendiamkan
saj masalahnya, meskipun ía sendiri merasa bahwa ada sesuat yang tidak beres
dikelasnya, yang memerlukan perbaikan segera.
Pertanyaan yang dapat dijadikan panduan untuk men
identifikasi masalah.
1.
Apa yang menjadi keprihatinan Anda (guru, kepala sekolah)
2.
Mengapa Anda memprihatinkannya?
3.
Menurut Anda, apa yang dapat Anda lakukan untuk itu?
4.
Bukti-bukti apa yang dapat Anda kumpulkan agar dapat membantu
membuat penilaian tentang apa yang terjadi
5.
Bagaimana Anda mengumpulkan bukti-bukti tersebut?
6.
Bagaimana Anda melakukan pengecekan terhadar kebenaran
dan keakuratan tentang apa yang telah tenjadi:
Wardani (2003:2.5) memaparkan beberapa bentuk pertanyaan
sederhana untuk menjadi acuan di dalam mengidentifikasi masalah yang dapat
dijawab oleh guru sendiri.
1.
Apa yang sedang terjadi di kelas saya?
2.
Masalah apa yang ditimbukan oleh kejadian itu ?
3.
Apa pengaruh masalah tersebut bag! kelas saya ?
4.
Apa yang akan tenjadijika masalah tersebut saya biarkan
?
5.
Apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi masalah
tersebut atau memperbaiki situasi yang ada?
B.
Menganalisis dan Merumuskan Masalah
Menganalisis rnasalah merupakan langkah yang harus
dilakukan guru setelah melakukan identifikasi. Jika melalui identifikasi kita
dapat menemukan beberapa masalah yang terkait dengan kegiatan pembelajaran di
kelas, maka analisis bertujuan agar masalah tersebut menjadi lebih jelas dan
dapat rnenduga faktor-faktor penyebabnya. Identifikasi masalah akan
menghasilkan daltar masalah. Guru sebagai peneliti selanjutnya perlu melakukan
analisis, Tanpa melakukan analisis, mungkin masalah yang kita identifikasi
rnasih kabur, Analisis dapat kita lakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada
diri sendiei atau yang disebut refleksi, dan dapat pula dengan mengkaji ulang
berbagai dokurnen seperti pekerjaan siswa, daftar hadir, atau daftar nilai,
persiapan mengajar atau bahkan rnungkin bahan pelajaran yang kita siapkan.
Analisis masalah mempunyal beberapa tujuan, yaitu: a)
rnendapatkan kejelasan masalah yang sesungguhnya, b) menemukan kemungkinan
faktor penyebab, c) menentukan kadar permasalahan.
Jika guru dapat bersikap jujur dan terbuka pada dirinya
sendiri, Ia akan mengembangkan sejuini ah pertanyaan Iebih lanjut. Misalnya
apakah cara saya mengajar yang kurang menarik. Mungkin metode mengajar yang
kurang bervariasi. Ataukah pendekatan kepada siswa-siswa belum dapat saya
lakukan secara baik . Mungkinkah saya kurang melibatkan mereka dalam pembahasan
materi sehingga saya nampak terlalu mendominasi proses pembelajaran yang
seharusnya saya dapat melibatkan mereka secara aktif. Atau saya kurang
mendayagqnakan media dan sumber-sumber belajar, sehingga mereka menjadi jenuh
dengan penjelasan yang saya berikan. Secara langsung maupun tidak langsung
ketika guru melakukan analisis masalah seperti lrii Ia juga sudah terlibat di
dalam memikirkan faktor-faktor penyebabnya. Keadaan seperti mi merupakan
Iangkah yang positif untuk kelanjutan tahapan di dalam PTK.
Untuk membantu mempertajam analisis masalah, guru dapat
menganalisis beberapa komponen berikut:
1.
Menganalisis daftar hadir siswa.
2.
Menganalisis daftar nilal siswa untuk menemukan bagaimana
hasil belajar yang mereka peroleh.
3.
Menganalisis tugas-tugas yang diberikan kepada siswa
beserta bahan pelajaran yang dipakai, apakah tugas-tugas dan bahan pelajaran
tersebut cukup menantang atau membosankan.
4.
Menganalisis balikan (feedback) yang diberikan guru
terhadap pekerjaan siswa. Apakah balikan tersebut membuat siswa frustasi atau
mendorong siswa untuk memperbaiki pekerjaannya.
Jika kita telah melakukan analisis masalah secara
cermat, maka masalah yang akan Anda kaji sekarang sudah menjadi semakin jelas.
Langkah berikut yang Anda akukan adalah merumuskan masalah.
Abimayu (dalam Wardani, 2003) mengingatkan beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam pemilihan masalah. Agar guru tidak mengalami
kesulitan di dalam mengembangkan PTK perlu diingat kembali beberapa hal berikut;
1.
Jangan memilih masalah yang Anda tidak kuasai.
2.
Ambillah topik yang skalanya kecil dan relatif
terbatas.
3.
Pilih masalah yang dirasakan paling penting bagi Anda
dan murid Anda.
4.
Kaitkan masalah dengan upaya pengembangan sekolah.
Sebelum marumuskan hipotesis tindakan, perlu diingat
kembali bahwa tidak mungkin dengan satu tindakan, semua masalah terpecahkan.
Juga tidak semua masalah memerlukan pemecahan melalui PTK. Untuk menentukan
masalah mana yang menjadi prioritas untuk dikaji atau dipecahkan melalui PTK berikut
ada beberapa hal yang dapat menjadi acuan:
- Masalah harus benar-benar penting bagi guru yang bersangkutan serta bermakna dan bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran guna meningkatkan kualitas pendidikan.
- Masalah harus dalam jangkauan kemampuan guru dalam melaksanakan tindakan di kelas.
- Masalah yang telah Anda pilih untuk dipecahkan rnelalui penelitian tindakan harus dirumuskan secara jelas agar dapat mengungkap berbagai faktor penyebab utamanya sehingga memungkinkan dicari alternatif pemecahannya. Jika Anda tidak mampu merumuskan secara spesifik masalah, maka pemecahan yang akan dilakukan akan sangat sulit mencapai sasarannya secara mendalam.
Bab V
Menilai
Kelayakan Hipotesis
Tindakan
A.
Memahami Hipotesis Tindakan
Secara umum, hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan
tentang hubungan dua variabel atau Iebih (Kerlingen, 1993), Hipotesis juga
dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan
penelitian, sampal terbukti melalui data yang terkumpul. Hipotesis selalu
mengambil bentuk kalimat pernyataan dan menghubungkan secara umum maupun khusus
antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Di dalam penelitian ilmiah,
hipotesis merupakan alat yang penting. Ada tiga alasan yang menopang alasan mi.
Pertama, hipotesis dapat dikatakan sebagal piranti kerja teori. Hipotesis dapat
dijabarkan dan teori-teori dan dan hipotesis lain. Kedua, hipotesis dapat diuji
dan ditunjukkan kemungkinan betul dan salahnya, yang diuji adalah relasi
(hubungan).
Borg & Gall (2003), mengajukan beberapa persyaratan
untuk merumuskan hipotesis:
- Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas. Hipotesis harus dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel.
- Hipotesis harus didukung oleh teori yang dikemukakan oleh para abli atau hasil penelitian yang relevan.
Pengertlan hipotesis tindakan sedikit berbeda dengan
hipotesis konvensional seperti diuraikan di atas. Jika hipotesis konvensional
menyatakan adanya huburigan antara dua vaniabel atau Iebih, atau menyatakan
adanya perbedaan antara dua variabel atau lebih. Hipotesis tindakan tidak
menyatakan demikian. Hipotesis tindakan hendaknya dipahami sebagai suatu dugaan
yang bakat terjadi jika suatu tindakan dilakukan (Sudarsono, 1997: 9). Sebagai
contoh:”jika intensitas latihan membuat kalimat ditingkatkan, maka siswa akan
lebih mudah menyusun suatu karangan.
Hipotesis tindakan harus dibuat atau dirumuskan dengan
melakukan kajian terhadap teori, atau dengan mengkaji pengalaman dalam praktik
pembelajaran yang telah dilakukan. Beberapa pakar menyarankan agar dalam
merumuskan hipotesis tindakan guru dapat melakukan beberapa bentuk kegiatan.
- Kajian literatur khususnya teori pendidikan atau pembelajaran.
- Kajian hasil-hasil penelitian yang relevan dengan perrrasalahan.
- Kajian hasil diskusi dengan rekan sejawat, pakar, peneliti dan lain-lain.
- Kajian pendapat dan saran pakar pendidikan
Melakukan kajian literatur merupakan suatu kegiatan
dimana guru sebagal peneliti berupaya menghlmpuri, memilah dan menganalisis
berbagal sumber tulisa• McMillan dan Schumecher (2001), melihat pentingnya
peran kajian literatur ini karena kegiatan ini akan membantu peneliti
menetapkan secara cermat signfikansi masalah yang akan diteliti sehingga akan
semakin mampu membimbing pikiran peneliti untuk membatasi masalah
penelitiannya, menembangkan rencana penelitian, memilih metode dan alat ukur
yang tepat serta mengembangkan hipotesis.
B.
Menilai Kelayakan Hipotesis Tindakan
Melalui pemahaman tentang makna hipotesis penelitian
secara umum dan memahami hipotesis tindakan sebagaimana dipaparkan terdahulu,
diharapkan kita telah memperoeh landasan atau kerangka dasar untuk membangun
hipotesis tindakan.
Penilaian hipotesis tindakan harus diarahkan pada penilaian
kelayakan tindakan. Penilaian kelayakan
tindakan dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan seperti contoh
berikut.
- Apakah saya memiliki pengetahuan berkenaan dengan hal itu?
- Apakah saya dan siswa saya memiliki kemampuan untuk melaksanakannya?
- Apakah tersedia sarana/fasilitas untuk mendukung kegiatan tersebut?
- Apakah tersedia waktu yang cukup untuk melaksanakan rangkaian kegiatan tersebut?
- Apakah iklim sekolah dan kim belajar di kelas cukup mendukung peiaksanaan tindakan?
Selain pentingnya pemahaman terhadap substansi tindakan,
juga sangat penting pemahaman guru tentang prosedur pengembangannya melalui PTK.
Guru harus memahami hal-hal yang berkaitan dengan PTK, baik cara merencanakan,
melaksanakan, pengumpulan dan analisis data dan refleksi serta hal-hal lain
yang terkait dengan pelaksanaan PTK. Dengan demikian berarti secara umum ada
dua hal yang harus dipahami guru, yaitu; Pertama, pemahaman tentang hal yang
berkaitan dengan substansi tindakan yang dipilih sebagai solusi pemecahan
masalah pembelajaran. Kedua, pemahaman berkenaan dengan PTK itu sendiri..
Menilai kelayakan hipotesis tindakan sama artinya mengkaji
secara cermat kelayakan tindakan yang dipilih untuk memecahkan masalah
pembelajaran yang dihadapi.
Beberapa hal yang perlu dijadikan dasar untuk
memperhatikan kelayakan hipotesis tindakan adalah; (1) kemampuan untuk
melaksanakan tindakan, (2) ketersediaan sarana/fasilitas, (3) kecukupan waktu,
(4) iklim sekolah dan iklim belajar di kelas. Agar hipotesis tindakan dapat diiaksanakan
dan terbukti mampu membawa perubahan yang diharapkan, maka sebelum merumuskan
hipotesis sebaiknya kita mengkaji kembali rumusan masalah yang telah disusun
sebelumnya.
BabVI
Penyusunan
Proposal Penelitian Tindakan Kelas
A.
Memahami Proposal PTK
Dalam berbagam sumber, mungkin kita sering menemui
istilah proposal penelitian, kadang kala juga disebut usulan penelitian Pada
prinsipnya kedua istilah atau sebutan tersebut terarah pada pengertian, yang
sama,jadi tidak perlu kita permasalahkan Usulan penelitian atau proposal
penelitian bisa berfungsi sebagai rencana pelaksanaan penelitian, alat
komunikasi antara peneliti dengan konsultan atau dengan penyandang dana maupun
dengan anggota peneliti. Secara umum proposal penelitian menguraikan tentang
masalah penelitian, bagaimana penelitian itu akan dilaksanakan, serta rnengapa
penelitian itu perlu dilakukan.
Untuk memudahkan pemahaman kita, perlu kita ditekankan
bahwa proposal penelitian PTK bisa bersifat formal, semi formal dan bisa juga
bersifat tidak resmi atau informal. Proposal yang bersifat resmi adalah
proposal yang disusun oleh peneliti biasanya bertujuan untuk mendapatkan
dukungan dana atau diminta oleh pihak tertentu.
Untuk keperluan ini biasanya pihak penyandáng dana sudah
memberikan rambu-rambu format proposal yang harus dilkuti, kriteria penilaian,
juini ah dana yang disediakan, rentang waktu, bahkan kadang-kadang juga diatur
hal-hal sangat teknis, seperti warna cover, juini ah halaman, jenis dan ukuran
serta hal-hal lain yang mereka anggap perlu. Proposal semi forral adalah
proposal yang disusun oleh peneliti untuk keperluan terbatas dalam ruang
Iingkup tertentu, misalnya ruang lingkup jurusan atau fakultas untuk perguruan
tinggi, atau sekolah. Proposal ini prinsipnya juga dikembangkan berdasarkan
rambu-rambu yang telah dipahami peneliti, atau rambu-rambu yang disusun sendiri
oleh lingkungan tersebut, akan tetapi tidak terlalu ketat dengan aturan-aturan
sehagaimana proposal formal. Tujuan penyusunan proposal ini juga bersifat
terbatas untuk lingkungan tersebut, dan kadang-kadang juga berkaitan dengan
perolehan dana untuk mendukung kegiatan yang diusulkan. Sedangkan proposal yang
digolongkan tidak formal atau tidak resmi adalah proposal yang disusun sebagai
kerangka acuan untuk keperluan peneliti sendiri, tidak terkait dengan perolehan
dana dan sifatnya tidak terlalu kaku.
Mungkin melalui berbagal sumber bacaan, kita menjumpal
format yang berbeda tentang proposal PTK. Jika menemui hal seperti itu kita
tidak perlu merasa bingung, sebab perbedaan - perbedaan tersebut sangat dimungkinkan
terjadi dan tidak dilarang untuk dikaji dan diikuti.Yang penting kita memahami
setiap bagian yang kita kaji tersebut.
B.
Bagian-bagian Proposal PTK
Berikut ini kita uraikan beberapa bagian pokok tersebut
beserta sub-sub bagiannya.
1.
Halaman – halaman pengantar
Bagian ini paling tidak terdiri dan dua halaman, yaitu
halaman judul dan halaman pengesahan. Halaman judul memuat judul penelitian,
nama penyusun proposal dan instansinya. Sedangkan halaman pengesahan berisi:
a.
Judul dan bidang ilmu/studi
b.
Nama lengkap ketua tim/peneliti dengan gelar, pangkat
& golongan, NIP, dan asal lembaga,
c.
Lokasi penelitian
d.
Lama penelitian
e.
Biaya penelitian yang diusulkan (jika mengusulkan dana)
f.
Sumber pendanaan (jika mengusulkan dana)
g.
Tempat dan tanggal pembuatan proposal
h.
Tanda tangan ketua tim/peneliti
i.
Tanda tangan kepala lembaga asal peneliti (SD/SMP/SMA/ SM
K)
2.
Halaman – halaman isi
a.
Judul Penelitian
b.
Latar belakang masalab
c.
Permasalahan
d.
Cara pemecahan masalah
e.
Tujuan dan manfaat PTK
Tujuan yang bersifat umum tersebut akan lebih baik jika dijabarkan menjadi beberapa tujuan yang
lebih spesifik, misalnya;
1)
Untuk mengetahui cara pengaturan diskusi kelompok.
2)
Untuk mendapat kejelasan tentang intensitas
keterlibatan siswa di dalam pelaksanaan diskusi kelompok.
3)
Untuk mendapatkan kejelasan peran guru di dalam
pelaksanaan diskusi kelompok.
4)
Untuk mengetahum cara kelompok mengkomunikasikan
kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi dalam penyelesaian latihan.
5)
Untuk mengetahui cara guru melaksanakan bimbingan
kelompok.
6)
Untuk mengetahui hasil latihan yang dicapai oleh
kelompok dan masing-masing siswa.
f.
Kerangka teori dan hipotesis
g.
Rancangan dan Metodologi Penelitian
1)
Penataan penelitian
2)
Aspek-aspek yang diselidiki
3)
Langkah-Iangkah kegiatan
4)
Analisis dan refleksi
5)
Tim peneliti
h.
Jadwal penelitian
i.
Rancangan anggaran
Di samping sistematika proposal yang dipaparkan di atas,
mungkin kita menemukan format yang berbeda. Keadaan seperti ini merupakan hal yang tidak perlu dipermasalahkan.
C.
Rambu-rambu Penilaian Proposal
Penilaian
kelayakan proposal pada umumnya diterapkan bagi proposal penelitian yang
disusun untuk memperoleh dukungan biaya dari lembaga-lembaga yang tertentu.
Penilaian kelayakan proposal mengacu pada kriteria yang telah ditentukan. Kriteria
penilaian tersebut memuat aspek-aspek
yang dinilal serta bobot penilaiannya yang menjadi kerangka acuan bagi para
penilai proposal dalam menentukan tingkat kelayakan suatu proposal.
Bab VII
Persiapan
dan Pelaksanaan PenehtianTindakan Kelas
A.
Persiapan Pelaksanaan PTK
Berikut ini adalah contoh tindakan-tindakan pembelajaran
yang harus dilakukan guru terkait dengan hipotesis tindakan yang telah
dirumuskan di atas;
1.
Guru akan memperkaya penjelasan materi pelajaran dengan
memperbanyak pemberian contoh nyata,
2.
Guru akan memperkecil peran dalam pembuatan contoh-contoh
untuk memperjelas materi pelajaran, kecuali memang sangat diperlukan.
3.
Peran siswa didorong seoptimal mungkin untuk
mengungkapkan contoh-contoh yang diperlukan,
4.
Setiap akan mengakhiri pelajaran, siswa diminta untuk
menyimpulkan sendiri mater! pokok yang telab disampaikan.
5.
Dalam penyimpulan materi pelajaran ini sepenuhnya
ditugaskan kepada siswa. Guru hanya memberikan stressing (penekanan) untuk
hal-hal yang sangat diperlukan.
6.
Guru akan mencermati perubahan dan peningkatan motivasi
belajar siswa.
7.
Jika guru telah menyusun garis besar tindakan
pembelajaran yang akan dilakukan, maka selanjutnya guru melakukan langkah-langkah
keglatan yang sekaligus memberikan ciri bagi guru yang melaksanakan PTK.
a.
Membuat rencana pembelajaran beserta scenario tindakan
yang akan dilaksanakan
b.
Merurnuskan kompotensi
c.
Merumuskan indikator keberhasilan
d.
Memilih Bahan Ajar.
e.
Memilih Metode
f.
Memilih Alat Bantu.
g.
Mempersiapkan Alat Ukur
h.
Memperjelas skenario pembelajaran.
B.
Melaksanakan PTK
Perlu diingat kembali bahwa hal yang sangat prinsip
bahwa pelaksanaan PTK bukan bagian terpisah dan pelaksanaan proses pembelajaran
(Kemis &Taggart (1991). Jadi guru yang melaksanakan PTK menurut pengamatan
pihak luar hampir tidak berbeda dengan guru-guru lain yang tidak melaksanakan
PTK, karena pada dasarnya guru bersangkutan tidak merubah jam mengajarnya,
jadwal pelajarannya, alokasi waktu yang dipergunaa serta siswa yang diajar.
Pada tahap awal melaksanakan penelitian , guru perlu
memperhatikan secara cermat keadaan dan kemampuan Siswa melalui pengamatan yang
dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakannya. Hal ini
terutama berkenaan dengan gambaran tentang keadaan kelas, perilaku siswa sehari-hari,
perhatian terhadap pelajaran yang disampaikan oleh guru, dan sikap siswa
terhadap mata pelajaran tersebut Jika penelitian yang dilakukan guru
menggunakan indikator perubahan hasil belajar Iswa, atau berkenaa, dengan
penguasaan mateni pelajaran, maka sebelum guru melakukan tindakan perbaikan melalui
PTK, perlu dilakukan tes untuk mengetahul seberapa jauh pengetahuan dan
kemampuan yang telah dimiliki Siswa tentang mateni pelajaran.
Secara lebib rinci beberapa Hal yang harus diperhatikan
guru di dalam mengawali dan mengimplemtasikan PTK diuraikan berikut ini :
- Mempersiapkan kondisi kelas
- Mempersiapkan siswa
sebaiknya guru melakukan beberapa hal yang berkaitan dengan
kesiapan siswa sebagal berikut;
a.
Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
berkenaan dengan materi yang akan dipelajari atau dibahas.
b.
Menjelaskan pentingnya kesiapan dan kesungguhan SiSwa
c.
Menjelaskan tugas-tugas atau kegiatan apa yang akan
dikerjakan siswa dan bagaimana melakukannya.
d.
Mengingatkan siswa akan keterbatasari waktu yang
tersedia agar mereka dapat menggunakannya secara efektif.
- Mempersiapkan sarana/fasilitas
- Menyiapkaa alat - alat bantu pembelajaran, termasuk kelengkapan pengumpulan data
- Implementasi di kelas
Bab
VIII
Pengumpulan
Data Penelitian Tindakan Kelas
A.
Jenis-jenis Data Dalam Penelitian
Di dalam kegiatan
penelitian, keberadaan data merupakan komponen yang sangat penting, karena
seperti apapun penelitian yang dirancang oleb peneliti tujuannya adalah untuk
memperoleh data.
1.
Data nominal
Data nominal adalah suatu data yang hanya terpilah
menjadi dua bagian atau dua pilihan, atau dua kategori di mana yang satu dengan
lainnya terpisah secara tegas (Kerlingger, 1993; Babie, 1986; Gay, 1981).
2.
Data ordinal
Data ordinal ialah suatu data yang rnenunjukkan urutan
daam kedudukan masing-masing data/data urutan peringkat/jenjang yang t[dak
rnenunjukkan kuantitas absolut (Kerlingger, 1993).
3.
Data interval
Data interval adalah suatu data yang menunjukkan jarak yang
memiliki ciri nominal dan ordinal. Di samping lu jarak keangkaan yang sama pada
skala interval mewakili jarak yang sama pula dalam hal pemilikan sifat yang
diukur.
4.
Data ratio
Data ratio adalah data pengukuran yang sangat tinggi, yang
mempunyai dri-ciri skala nominal, ordinal, dan Interval, dan juga memiliki nol
mutlak atau nol natural yang mengandung makna empirik. Jika suatu pengukuran
menggunakan nol pada suatu skala rasio, maka dapat dikatakan bahwa obyek
tertentu tidak memiliki sifat yang sedang diukur. Angka-angka pada skala rasio
menunjukan besaran sesungguhnya pada sifat yang diukur. Untuk ilmu sosial
jarang sekali rnenggunakan skala rasio.
B.
Teknik Pengumpulan Data dengan Tes
Seorang peneliti dapat menggunakan berbagai teknik,
Penggunaan dan salah satu atau beberapa teknik pengumpulan data sangat
tergantung pada Jenis data yang akan dikumpulkan, tujuan penelitian dan tentu
saja pemahaman peneliti tentang teknik yang akan dipergunakan tersebut serta
kemampuannya untuk melaksanakan dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang
terkait. Sebagai conth seorang peneliti melakukan penelitian tentang motivasi
dan hasil belajar siswa pada beberapa sekolah yang telah ditentukannya
Teknik tes atau kadang-kadang juga disebut system
testing merupakan usaha untuk memahami atau memperoleh data tentang siswa.
Dalam pandangan lain juga dikemukakan bahwa tes sebagai suatu prosedur yang sistematis
untuk mengobservasi (mengamati) tingkah laku individu, dan menggambarkan atau
mendeskripsikafl tingkah laku itu
melalui skala angka atau system kategori. Jika defenisi ini dianalisis, maka
kita menemukan beberapa hal penting yang dapat kita simpulkan yaitu;
1.
Tes adalah suatu bentuk tugas yang terdiri dan sejuini ah
pertanyaan atau perintah-penintah.
2.
Tes diberikan kepada seorang anak atau sekelompok anak
untuk dikerjakan,
3.
Bahwa respon atau jawaban anak atau kelompok anak
tersebut dinilai.
4.
Penggunaan teknik tes, khususnya tes prestasi belajar
bagi guru di sekolah bertujuan untuk;
a.
Menilai kemampuan belajar munid
b.
Membenikan bimbingan belajar kepada munid
c.
Mengecek kemajuan belajar
d.
Memahami kesulitan-kesulitan betajar
e.
Memperbaiki teknik mengajar
f.
Menilai efektivitas (keberhasilan) mengajar.
Dalam pembahasan tentang bentuk-bentuk, Gall & Borg
(2002:209) mengemukakan terdapat beberapa bentuk tes performance, yaltu; (a)
intelligence tests atau tes intelegensi, (b) atitude tests atau tes sikap, (c)
achievement tests atau tes hasil belajar, (d) diagnostic tests atau tes
diagñaostic, dan performance assessment atau penilaian kinerja.
Pentingnya pemahamari tentang tes sebagal salah satu teknik
pengumpulan data digambarkan dalam contoh pengambilan data dengan Skala
Inteligensi Stanford-Binet sebagaimana dipaparkan (Arikunto, 1998), kasus di
mana ada enam orang wanita dan enam orang pria melaksanakan tes Stanford Binet
terhadap sampel anak-anak usia 4 tahun. Hasil tes menunjukkan anak-anak yang
dites oleb wanita mencapat 10 yang lebih tinggi (89,61) dibandingkan dengan
anak-anak yang dites oleh pria (83,16), suatu perbedaan yang cukup signifikan.
Untuk meningkatkan obyektivitas hasil tes ada beberapa hal
yang perlu dilakukan;
a.
Memberi kesempatan berlatih kepada tester (orang yang
melaksanakan tes).
b.
Menggunakan tester lebih dan satu orang, kemudian
hasilnya dibandingkan.
c.
Melengkapi instrument tes dengan manual atau pedoman
pelaksanaan selengkap dan sejelas mungkin.
d.
Menciptakan situasi tes sedemikian rupa sehingga membantu
tester (orarig yang mengerjakari tes) tldak mudah terganggu oleh lirigkungan
e.
Memilih situasi tes sebaik-baiknya, misalriya bukan
malam Minggu, bukan dalam keadaan udara yang sangat panas, bukan sehabis
liburari panjang, menjelang ujian, dan sebagainya.
f.
Perlu menciptakan kerjasarna yang baik dan rasa sating percaya antara testeryang satu
dengan tester lainnya.
g.
Menentukan waktu untuk mengerjakan tes secara tepat,
baik ketepatan pelaksanaan maupun lamanya.
h.
Memperoleh izin dan atasan jika tes tersebut dilaksanakan
di sekolah atau di kantor-kantor.
C.
Penggunaan Teknik Non Tes untuk Pengumpulan Data PTK
1.
Pengamatan atau Observasi
Dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya sudab ditekankan bahwa
pelaksanaan tindakan di dalam PTK secara bersamaan juga dilakukan observasi dan
interpretasi, sehinyga dapat dikatakan pelaksanaan tindakan dan
observasi/interPretasi berlangsung secara simultan. Artinya, data yang diarnati
tersebut langsung dflnterpretasikan. tidak sekedar di rekam.
Misalnya, sebagaimana yang dirujuk oleh Joni (1998L
pengamatan ala Flanders yang hanya merekam data dalam tiga kategori yaitu;
pembicaraan guru, pembicaraan slswa, dan sepi (tanpa pembicaraan), tidak
memerlukan interpretasi pada saat rekaman dilakukan. lnilah yang dinamakan
“low-inference observation’, sedangkan. pengamatan yang mempersyaratkan
interpretasi atau penafslran ketika merekam data disebut sebagal
“high-inference observation
Pelaksanaan observasi sebagal alat pengumpulan data
memerlukan persiapan. Salah satu komponen yang perlu diperhatikan di dalam
persiapan pelaksanaan observasi adalah cara perekaman data. Artinya, apa yang
harus direkam dan bagaimana merekamnya melalul observasi tersebut harus
ditentukan secara jelas.
Agar teknik observasi ini dapat kita pahami dengan baik serta
dapat Anda pergunakan sesual dengan prosedur yang benar, berikut ini mari kita bahas bersama beberapa aspek yang
berkaitan dengan observasi, mulai dan pninsip dan jenis-jenisnya. tujuannya,
serta prosedur pelaksanaannya.
a.
Prinsip dan Jenis Observasi
Ada beberapa hal yang penlu dilakukan guru;
1)
Guru harus memutuskan apa yang akan diajarkan serta apa
yang harus siswa lakukan di dalam pencapaian tujuan pembelajaran
2)
Guru harus mernutuskan bagaimana konsekuensi tujuan
pembelajaran dan prosedur pembelajaran.
3)
Guru harus nemutuskan bagaimarla prosedur atau metode
melaksanakarx pembelajaran.
4)
Guru perlu memutuskan bahan yang dlpergunakan dan
bagairnana menyajikannya kepada siswa.
5)
Guru harus menentukan bagaimana menata atau mengontrol
situasi pembelajaran di kelas.
6)
Guru harus memutuskari cara mengorganisasi waktu yang
tersedia di dalam kegiatan pembelalaran.
7)
Guru harus memutuskan cara mengelompokkan sswa di dalam
proses pembelalaran
8)
Guru harus memutuskan cara menciptakan llngkunclafl
kelas dengan baik .
9)
Guru harus menentukan kapan dan bilamana dipenlukan
resourcher person untuk mendukung kelancaran kegiatan pembelajaran
b.
Tujuan / Sasaran Observasi
Muss (2000), menjelaskan bahwa observasi bertujuan
mengamati aktivitas siswa, aspek-aspek fisik dan suatu situasi tertentu sebagal
sumber informasi yang dapat memperkaya informasi-informasi yang lain. Observasi
juga bertujuan untuk mengumpulkan data yang dipenlukan untuk menjawab masalah
tertentu. Dalam penetitian format, observasi bertujuan mengumpiilkan data yang
vahid dan variabel (sahih dan handal).
c.
Prosedur Observasi
Pada dasarnya, prosedur atau Iangkah-langkah observasi
terdini dad tiga tahap, yaitu: pertemuan pen-dahuluan, obserjasi, dan diskusi
balikan. Ketiga tahap mi sering disebut sebagal siktus pengamatan yang poputer
dipakaf dalam supervisi klinis, baik dalam pembimbing calon guru maupun dalam memberikan
bantuan profesional bagi guru yang sudah bertugas. Siklus ini dapat digambarkan
sebagai berikut :
1)
Pertemuan – pertemuan
2)
Pelaksanaan observasi
3)
Diskusi balikan
2.
Wawancara
Wawancara mungkmn merupakan alat yang paling purba dan paling
sering digunakan manusia untuk memperoleh informasi (Kerlingger, 1993).
Wawancara memiliki sifat-sifat penting yang tidak dipunyai oleh tes-tes pada
skala obyektil dan pengamatan behavioral. Apabila digunakan dengan menygunakan
rencara yang tersusun baik, maka wawancara dapat menghasilkan banyak informasi
yang bersifat tleksibel dan dapat diadaptasi untuk situasi-situasi individual,
serta seningkali dipergunakan bilamana tidak ada metode lain yang dimungkinkan
atau memadai.
Wawancara dapat dipergunakan untuk tiga maksud utama. Pertama
wawancara dapat dipergunakan sebagai alat eksplorasi untuk identifikasi varibel
dan relasi, mengajukan hipotesis, dan memandu tahap-tahap lain di dalam
penelitian. Kedua, wawancara dapat menjadi instrumen utama penelitian. Dalam
hal ini pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengukur aspek-aspek yang
diteliti dimasukkan ke dalam panduan wawancana dalam keadaan mi,
pertanyaan-pertanyaan harus dipandang sebagai butirbutir (item soal) dalam
suatu instrument penelitian, bukan sekedar sebagai sarana menghimpun informasi
belaka. Ketiga, wawancara itu dapat digunakan sebagai penopang atau pelengkap
metode lain. Dalam keadaan mi wawancara dapat benfungsi menggali lebib mendalam
motivasi responden serta alasan-alasan responden membenikan jawaban dengan
cara-cara tertentu.
Di dalam penelitian kualitatif, wawancara (interview) oleh
banyak kepustakaan dikemukakan di dalam berbagai terminologi, misalnya disebut
intensive interviewing, in&pth interviewing, ataupun instructured
interviewing, yang berarti suatu
percakapan yang terarah dengan tujuan mengum pulkan atau memperkaya informasi
atau bahan-bahan (data) yang mendetil (kaya atau padat), yang hasil akhirnya
untuk digunakan untuk analisis kualitatif (Mantja, 1993; McMiIlan &
Schumacher, 2001). Perbedaan dengan wawancara terstruk tur yang bertujuan untuk
memperoleh pilihan di antara berbagai alternatif jawaban terhadap pertanyaan
yang ditampilkan dan sebuah topik atau situasi, adalah bahwa wawancara mendalam
, mendetil atau intensif berupaya menemukan pengalaman-pengalaman informan atau
responden dan topik tertentu atau situasi spesifik yang dikaji, Dalam pandangan
Lofland and Lofiand (1983), bahwa bagian tetbesar dan data observasi peranserta
pada dasarnya diperoleh melalui wawancara informal dan yang disempurnakan
melalui observasi. Karena tu pengamatan peranserta dan wawancara mendalam merupakan teknik sentral dalam penelitian
kualitatif. OIeh karena itu keduanya harus dipandang dan penekanan
penggunaannya dengan memperhatikan saling keterkaitannya.
a.
Bentuk-bentuk Wawancara
Secara umum ada beberapa benruk wawancara yang sening
dipengunakan di dalam pengumpulani data penelitian. Patton (1987) mengemukakan
bebenapa bentuk wawancara, yaitu; (a) wawancara pembicaraan informal, (b)
pendekatan dengan menggunakan pet unjuk umum wawancana, dan (c) wawancana baku
terbuka.
3.
Melaksanakan Wawancara
Di dalam pengumpulan data melalui wawancara, ada dua
kegiatan yang sangat mendasar dan saling terkaft, yaitu mengembangkan hubungari
baik (raooort) dan mengejar perolehan
infonmasi. Keduanya penting dan menuntut perhatian khusus peneliti. Dalam
pengumpulan data, jangan sampai terjadi kegiatan yang satu mengorbankan
kegiatan aspek lain. Misalnya, karena peneliti khawatir data yang akan
dikumpulkan tidak Iengkap, rnaka ia mengabaikan aspekaspek yang berkenaan
dengan pembinaan hubungan yang baik dengan informan dengan maksud agar waktu yang
dipergunakan wawancara dapat dipergunakan secara efektjf, Sebaliknya juga tidak
boleh terjadi, lantaran sangat menaruh perhatian di dalam pembinaan hubungan
yang harmonis dengan inforrnan, data yang dikumpulkan menjadi sangat sedikit
dan tidak lengkap, karena waktu yang tersedia ebih banyak untuk melakukan
sesuatu yang diarahkan untuk menciptakan hubungan baik tersebut OIeh sebab itu
secara gas besarnya ada tiga kegiatan yang berkaitan dengan petaksanaan
wawancara yaitu; (1) Memulai wawancara, (2) mengajukan pertanyaan pokok
sekaligus perekaman data, (3) mengakhiri wawancara.
BAB
X
Penyusunan
Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas
A.
substansi Laporan Penelitian
Istilah laporan memiliki dua macam pengertian atau definisi,
seperti yang dipaparkan berikut ini :
1.
Cerita yang dibawakan oleb seseorang kepada orang lain,
terütama tentang suatu hal yang diteliti secara khusus.
2.
Pernyataan formal tentang hasil penelitian, atau apa
saja yang memerlukan informasi yang pasti, yang dibuat oleb seseorang atau
badan yang diperintahkan atau diharuskan untuk melakukan hal itu.
Dalam menulls laporan hasil penelitian, terdapat
berbagai bentuk dan format dan mulai yang paling sederhana sampai dengan yang
paling rumit. Bentuk aporan yang akan anda pelajani mi adalah hanya salah satu
bentuk saja dari suatu laporan, yaitu laporan penelitian tindakan kelas (PTK).
Tujuan menulis laporan secara sederhana adalah untuk
mencatat, membenitahukan, dan merekomendasikan hasil penelitian. Dengan
demikian, apa pun yang ditakukan sebeum, selama, dan setelah peneiltian
berakhir, semuanya terdokumentasikan dengan baik , dan kemudian dapat
dikomunikasikan ke berbagai pihak. Dalam penelitian pada umumnya, isinya
merupakan laporan hasil penelitian yang berupa temuan baru dalam bentuk teori,
konsep, metode, dan prosedur, atau permasalahan yang perlu dicarikan cara
pemecahannya.
Sejalan dengan karakteristhknya, laporan setiap hasil
penelitian tindakan kelas (PTK) selalu dUkuti dengan suatu thndakan (action).
Kemudian dilakukan pemantaUan (ob-. servash), dengan maksud untuk mengamati
apakah masalah yang dibahas dalam penelitian sudah dapat diatash, ataukah
justru muncul permasalahan lain. Kalau memang muncul msalah baru, maka peneliti
PTK harus r-nenyusun rencana kembali untuk selanjutnya, dan dihkuti shklus dan
tahapan berikutnya, dan seterusnya. Kegiatan ini terus berputar dan berulang
sehingga tidak ada permasalahan yang tertunda penanganannya.
B.
Struktur laporan PTK
Struktur laporan merupakan bagian yang sangat mendasar
dalam sebuah laporan, karena format laporan akan merupakan kerangka berpikir
yang dapat memberikan arab penulisan, sehingga memudahkan anda dalam menulis
laporan. Struktur ini harus sudah anda
persiapkan sebelum penelitian dilakukan, yaitu pada saat anda menulis proposal.
Ibarat membangun rumah, wujud akhir dan sebuah rumah sudah akan kelihatan ketika
kerangka stnukturdasarbangunan rumah tersebut sudah berhasil ditegakkan, begitu
jugalah halnya dengan format laporan penelitian.
Dalam penelitian PTK laporan bukan hanya menyampaikan hasil
dan kegiatan penelitian semata-mata, akan tetapi juga mendeskripsikan semua
Iangkah, dan mulai menemukan masalah, merencanakan (plan), melakukan tindakan
(action), mengamati (observation), dan merefleksi (reflection), kemudian
kembali ke rencana (revised plan).
Karya iImiah, termasuk laporan penelitian tindakan kelas
hatus ditulis dengan rnemperhatikan prinsip-prinsip ilmiah. Pa!ing tidak,
terdapat tiga prinsip ilmiah yang menjadi prasyarat suatu karya tulis ilmiab,
yaitu: (a) mempersoalkan kebenaran, (b) menggunakan pendekatan atau metode
ilmiah, dan (3) ditulis dengan teknik tatatulis ilmiah.
Pada aspek kebenaran, ada tiga kriteria yang menjadi
patokan, yaitu koherensi, korepondensi, dan pragmatik. Metode non-ilmiah yang
Perlu dihindari adalah kebetulan, trial and eror, serta otoritas dan
kewibawaan. Sementara itu, pendekatan yang terrnasuk kategori metode ilniiah
adalah metode induktif, metode deduktif, reflective thinking, dan penelitian.
Adapun mengenai teknik tatatulis ilmiah, yang perlu mendapatkan perhatian
adalah penggunaan bahasa resmi dan baku, taat asas, seeta memperhatikan
kelaziman.
Kahmat yang digunakan dalam laporan harus cermat sesuai
dengan gramatika, sintaks dan gaya penulisannya. Hal lain yang perlu
diperhatikan dalam membuat laporan adalah sinkronisasi antara masalah, tujuan,
hipotesis, tindakan, dan kesimpulan. Dalam suatu penelitian, termasuk PTK
berangkat atau masalah sebagai titik tolak kegiatan penelitian yang difokuskan
pada usaha upaya perbaikan proses pembelajaran sehingga hasilnya dan
kesimpulannya harus berupa cara untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan
demikian maka dapat disimpulkan bahwa laporan hasil PTK adalah cara untuk
memecahkan permasalahan yang anda hadapi dalam proses pembelajaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar